Senin, 03 Mei 2010

Penelitian Tindakan Kelas

MENINGKATKAN PENGUASAAN MATERI BANGUN RUANG

MELALUI PENDEKATAN STUDENT ACTIVE LEARNING (S.A.L)

DENGAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA POWER POINT

KELAS IX SMP N 1 PASEKAN INDRAMAYU

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Masalah pendidikan dan pengajaran merupakan masalah yang kompleks, banyak faktor yang ikut mempengaruhinya. Salah satu faktor tersebut di antaranya adalah guru. Guru merupakan komponen pembelajaran yang memegang peranan penting dan utama, karena keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor guru. Upaya peningkatan tenaga pengajar atau guru dan proses pembelajaran dinilai paling strategis, mengingat peranannya sangat langsung mempengaruhi proses dan hasil belajar. Guru dan proses pembelajaran di dalam kelas pada dasarnya adalah kegiatan pengajaran. Meningkatnya mutu pendidikan di sekolah satu di antaranya dilihat dari hasil belajar yang dicapai siswa. Hasil belajar tersebut sangat ditentukan oleh keefektivan pembelajaran. Inti dari proses pembelajaran adalah efektivitasnya. Tingkat efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Perilaku pendidik yang efektif, antara lain, mengajar dengan jelas, menggunakan variasi model pembelajaran, menggunakan variasi sumber belajar, antusiasme, memberdayakan peserta didik, menggunakan konteks (lingkungan) sebagai sarana pembelajaran, menggunakan jenis penugasan, dan pertanyaan yang membangkitkan daya pikir dan keingintahuan: Sedangkan perilaku peserta didik mencakup antara lain motivasi/semangat belajar, keseriusan, perhatian, pencatatan, pertanyaan, senang melakukan latihan, dan sikap belajar yang positif.

Secara geografis, SMPN 1 Pasekan Indramayu berada di Kecamatan Pasekan (+ 8 km dari pusat pemeritahan kabupaten Indramayu). Sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai buruh tani, nelayan dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri. Kondisi semacam ini berdampak pada kurangnya perhatian orang tua pada masalah pendidikan yang dihadapi siswa, akibatnya motivasi siswa untuk berprestasi dibidang akademik sangat rendah. Demikian juga terhadap yang terjadi pada mata pelajaran matematika.

Keaadaan lingkungan sekolah yang minim akan informasi teknologi membuat siswa antusias dengan masuknya multimedia komputer di lingkungan sekolah. Hal ini membuat siswa cenderung mengikuti pelajaran matematika lebih meningkat. Sejalan dengan individu siswa SMP yang menginjak proses dewasa, yang serba ingin tahu dan suka akan tantangan. Hal ini membuat setiap guru harus selalu berinovasi dalam proses belajar mengajar di kelas.

Pembelajaran matematika mengajarkan pemecahan masalah tidak hanya untuk keperluan mata pelajaran matematika saja, tetapi untuk keperluan bidang-bidang ilmu lainnya. Untuk itu dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan keterampilan dalam menyelesaian soal – soal matematika dengan berbagai metode. Misalnya proses hitung-menghitung, proses menentukan efisiensi langkah pengerjaan soal ( algoritma ), penyelesaian masalah, menentukan logika kebenaran untuk mengambil suatu keputusan dan sebagainya. Jadi bagi siswa SMP merupakan kesempatan yang baik dilatih secara kontinu melakukan pemecahan masalah melalui pembelajaran matematika.

Berdasarkan pengalaman yang didapat melalui pertemuan musyawarah guru mata pelajaran matematika, baik yang dilakukan di lingkungan SMPN 1 Pasekan, maupun di sektor, pada umumnya kemampuan matematika siswa masih jauh dari harapan. Kegiatan belajar mengajar di kelas masih sangat ditentukan oleh gurunya. Khususnya pada siswa belajar bangun ruang, siswa banyak mengalami kesulitan dalam memahami unsur-unsur bangun ruang, mengggambar bangun ruang dan soal-soal yang berkaitan dengannya. Hasil belajar dari tahun ketahun tidak ada peningkatan yang signifikan, hasilnya selalu dibawah kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan oleh musyawarah guru.

Dari pengalaman pembelajaran seperti tersebut diatas menumbuhkan pemikiran baru, bagaimana yang yang kurang maksimal tersebut dapat dirubah untuk diperbaiki. Muncul suatu gagasan untuk berkolaborasi mencari penyelesaian masalah diatas. Menemukan bagaimana cara memberi perang masing-masing siswa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Bagaimana memanfaatkan kemampuan tersebut untuk berlatih secara kontinu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapainya.

Pada persoalan diatas akan dicobakan suatu strategi pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran dalam kelompok-kelompok diskusi kelas. Diharapkan dengan kegiatan ini akan membantu siswa dalam memahami materi bangun ruang, sehinga dapat menumbuhkan semangat siswa dalam peningkatan hasil belajar yang lebih baik

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi seperti tersebut diatas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana skenario pembelajaran matematika dengan metode student active learning matematika pada pencapaian standar kompetensi materi bangun ruang yang lebih operasional ?.

2. Apakah pembelajaran matematika bangun ruang dengan strategi penggunaan multi media power point dapat meningkatkan keaktifan siswa belajar, keterampilan siswa , dan kemampuan siswa dalam belajar ?.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini diharapkan dapat :

1. Menemukan format skenario pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran student active learning matematika dengan menggunakan multimedia power point.

2. Mengetahui sejauh mana pengaruh pembelajaran student active learning matematika dengan mengunakan multimedia power point dapat meningkatkan keaktifan, keterampilan berdiskusi dan hasil belajar siswa.

D. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini dapat memberi manfaat :

1. Lahirnya suatu metode pembelajaran baru dapat memberikan nuansa siswa siap menghadapi masalah, memecahkannya, dan siap menghadapi masalah baru.

2. Bagi guru, diperoleh suatu kreativitas inovasi pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswa, dan guru sebagai fasilitator dengan metode student active learning dengan menggunakan multimedia power point.

3. Bagi siswa, meningkatkan penguasaan materi bangun ruang kelas IX SMP Negeri1 Pasekan Indramayu.

4. Bagi pengembangan kurikulum, diperoleh ketepatan implementasi pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum tiangkat satuan pendidikan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KAJIAN PENELITIAN PENDUKUNG

Penelitian Sukestiyarno, 2004 yang mengeksperimenkan pembelajaran matematika berbasis media dan teknologi, ternyata menunjukkan semangat siswa untuk mempelajari materi yang sedang dipelajari melalui VCD. Semangat tersebut terjadi karena siswa dihadapkan pada penerapan teknologi apa yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajarinya. Pada situasi lain siswa ditunjukan teknologinya terlebih dahulu selanjutnya dijelaskan untuk sampai ke teknologi tersebut membutuhkan prasart pengetahuan seperti apa yang dipelajari sekarang.

Penelitian Kariadinata, (2005) menyatakan bahwa pembelajaran dengan program Computer Based Multimedia merupakan sutu konsep gabungan antara bebrapa komponen seperti gambar, animasi, teks, grafik, suara dan video menjadi suatu yang dikendalikan oleh sistem komputer secara interaktif. Gambar dan animasi dapat membuat pengajaran matematika lebih konkrit dan realistik. Dalam pembelajaran matematika program CBM dapat membantu siswa dalam mempelajari topik-topik tertentu yang membutuhkan akurasi tinggi. Hal tersebut memudahkan siswa dalam memahami konsep bangun ruang.

B. KAJIAN TEORI

1. Kompetensi Dasar Matematika Bangun Ruang

Pembelajaran materi matematika untuk pokok bahasan bangun ruang adalah diajarkan di kelas IX semester ganjil. Kompetensi dasar yang telah dirumuskan dalam kurikulum menyebutkan identifikasi sifat-sifat bangun ruang dan bagian-bagianya, membuat jaring-jaring bangun ruang, dan menghitung luas permukaan dan volum bangun ruang.

2. Model Pembelajaran Student Active Learning Matematika dengan Multimedia Power Point.

Kegiatan untuk mengatifkan siswa diselenggarakan pembelajaran kooperatif dengan metode activities and class discussion matematika dengan multimedia power point. Siswa belajar aktif menurut Mary Hohman ( 1955), adalah belajar dimana anak berbuat dengan objek-objek dan berinteraksi dengan orang, ide serta kejadian untuk membangun pemahaman baru. Cara yang dilakukan melalui : ekspositori, bertanya, menjawab pertanyaan ( tentang materi, kejadian, gagasan, rasa ingin tahunya) serta memcahkan masalah. Senada dengan Michele Graves (1989) belajar aktif adalah proses dimana anak mengexplorasi lingkungan melalui : mengamati, meneliti, menyimak, menggerakkan badan, menyentuh, mencium, meraba dan membuat sesuatu dengan objek yang ada di sekitar mereka. Jadi belajar aktif adalah proses berkelanjutan, mulai dari penemuan, penggabungan ide hingga menghasilkan sesuatu yang baru, dengan demikian belajar aktif bagi anak merupakan proses kompleks yang melibatkan aktifitas mental amupun fisik. Adapun langkah-langkah penerapan S A L adalah sebagai berikut :

1. Guru harus memulai dari kemampuan anak apa yang diminati anak dalam belajar, karena anak memiliki kapasitas untuk berkembang ( senang belajar, terus belajar bertanggung jawab dalam belajar ) sebagai perwujudan dari seorang anak yang manpu self activity. Jadi bukan anak yang harus disesuaikan dengan program, tetapi program menyesuaikan dengan anak.

2. Guru tidak dapat memaksa akan belajar aktif terjadi akan tetapi dapat meciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya belajar aktif. Dalam hal ini siswa diberika gaya belajar yang berbeda yaitu dengan menggunkan multimedia komputer dengan power point.

3. Student active learning yang akan diselenggaran dalam pembelajaran materi bangun ruang akan dimunculkan sebagai berikut : Siswa dibagi dalam beberapa kelompok belajar, setiap anggota diberi peran. Dalam tiap kelompok akan diberi soal untuk dipecahkan pada intern kelompok. Apabila masalah sudah dipecahkan maka siswa harus mau berjiwa pemimpin, dia harus mau membatu rekan satu kelompoknya dan kelompok lain. Siswa bertabggung jawab dalam kelompoknya

3. Konsep Belajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Banyak pengertian belajar telah dikemukakan para ahli salah satu di antaranya adalah menurut Gagne, bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar siswa memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari 1) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan 2) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar (Dimyati dan Mujiono 2002:10). Dari pengertian belajar tersebut, terdapat tiga ciri utama belajar, yaitu proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.

a. Proses

Istilah belajar itu sendiri proses perubahan sikap dan perilaku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar, yaitu dari belum mampu menjadi mampu, dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum kompeten menjadi kompeten. Sedangkan sumber belajar ini dapat berupa buku. Guru, sesama teman, dan lingkungan.

b. Perubahan tingkah laku

Hasil belajar berupa perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar dikelompokkan ke dalam tiga ranah (kawasan), yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan motorik (psikomotor), dan nilai-nilai atau sikap (afektif).

c. Pengalaman

Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara guru dan siswa, siswa dan siswa, dan siswa dengan lingkungan. Lingkungan fisik (buku, alat peraga, alam sekitar), maupun lingkungan sosial (guru, siswa, pustakawan, kepala sekolah).

4. Prinsip-Prinsip Belajar

Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual (Dimyati dan Mudjiono, 2002:42).

1) Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai suatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dati orang lain, dari guru, orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.

2) Keaktifan

Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis, misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.

3) Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing.

4) Pengulangan

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, menghayal, merasakan, dan berpikir. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.

5) Tantangan

Teori Medan (fild theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan, yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbulah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya.

6) Balikan dan penguatan

Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan medapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar yang selanjutnya.

7) Perbedaan individual

Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan invidual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar Siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar.

5. Faktor-Faktor yang Memungkinkan Terjadinya Belajar

Banyak faktor yang memungkinkan terjadinya belajar (Dimyadi dan Mudjiono, 2002:247) menyatakan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya belajar adalah sebagai berikut.

a. Faktor Intern yang dialami siswa dan dihayati oleh siswa meliputi 1) sikap terhadap belajar, 2) motivasi belajar, 3) konsentrasi belajar, 4) kemampuan mengolah bahan belajar, 5) kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, 6) kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, 7) kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, 8) rasa percaya diri siswa, 9) intelegensi dan keberhasilan belajar, 10) kebiasaan belajar, dan 11) cita-cita siswa. Faktor-faktor interen ini akan menjadi masalah sejauh siswa tidak dapat menghasilkan tindak belajar yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik.

b. Faktor Ekstern belajar meliputi 1) guru sebagai pembina belajar, 2) prasarana dan sarana pembelajaran, 3) kebijakan penilaian, 4) lingkungan sosial siswa di sekolah, dan kurikulum sekolah. Dari segi guru sebagai pembelajar maka peranan guru dalam mengatasi masalah-masalah ekstern belajar merupakan prasyarat terlaksananya siswa dapat belajar.

6. Tipe-Tipe Belajar

Menurut Gagne, kegiatan belajar manusia dapat dibedakan atas 8 jenis, dari jenis belajar yang paling sederhana, yaitu belajar isyarat (signal learning) sampai jenis belajar yang paling kompleks, yaitu pemecahan masalah (problem solving).

Kedelapan jenis belajar tersebut.

1) Belajar isyarat

Belajar isyarat adalah kegiatan yang terjadi secara tidak disadari, sebagai akibat dari adanya suatu stimulus tertentu. Sebagi contoh, jika seorang siswa mendapatkan komentar bernada positif dari guru matematika, secara tidak disadari siswa itu akan cenderung menyukai pelajaran matematika. Sebaliknya, jika seorang siswa mendapat suatu komentar yang bernada negatif dari seorang guru, secara tidak disadari siswa itu akan cenderung tidak menyukai pelajaran yang dipegang oleh guru tersebut.

2). Belajar Stimulus-Respons

Belajar stimulus respons adalah kegiatan belajar yang terjadi secara disadari, yang berupa dilakukannya sesuatu kegiatan fisik sebagai suatu reaksi atas adanya suatu stimulus tertentu. Kegiatan fisik yang dilakukan tersebut adalah kegiatan fisik yang di masa lalu memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi orang yang bersangkutan. Sebagai contoh pada waktu para siswa diberi suatu tugas dari guru yang hasilnya harus dikumpulkan, seseorang siswa mungkin secara sadar berusaha untuk menuliskan hasil pelaksanaan tugas itu dengan rapi sebab, menurut pengalaman yang ia miliki di masa lalu, suatu pekerjaan yang ditulis secara dengan rapi cenderung mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

3) Rangkaian Gerakan

Rangkaian gerakan merupakan kegiatan yang terdiri atas dua gerakan fisik atau lebih yang dirangkai menjadi satu secara berurutan, dalam upaya untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu. Sebagai contoh, kegiatan melukis garis bagi pada suatu sudut merupakan suatu kegiatan yang terdiri atas beberapa gerakan fisik yang dilakukan secara berurutan, sejak dari pembuatan suatu busur lingkaran yang berpusat di titik tersebut sampai perbuatan garis bagi yang dimaksud.

4) Rangkaian Verbal

Rangkaian verbal merupakan kegiatan merangkai kata-kata atau kalimat-kalimat secara bermakna, termasuk menghubungkan kata-kata atau kalimat-kalimat dengan objek-objek tertentu. Misalnya, kegiatan mendeskripsikan sifat-sifat suatu bangunan geometri, (persegi panjang, belah ketupat, dll) kegiatan menyebutkan nama benda-benda tertentu dan sebagainya.

5) Belajar membedakan

Belajar membedakan merupakan kegiatan mengamati perbedaan antara sesuatu objek yang satu dengan sesuatu objek yang lain, misalnya membedakan lambang "2" dengan lambang "5", membedakan lambang "u" dengan lambang "n" (pada pembicaraan tentang himpunan), membedakan bilangan bulat dengan bilangan cacah, membedakan konstanta dengan variabel, mencermati perbedaan antara prosedur mencari FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dengan prosedur mencari KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) dan sebagainya.

6) Belajar konsep

Belajar konsep adalah kegiatan mengenali sifat yang sama yang terdapat pada berbagai objek atau peristiwa, dan kemudian memperlakukan objek-objek atau peristiwa-peristiwa itu sebagai suatu kelas, disebabkan oleh adanya sifat yang sama tersebut. Seorang siswa dikatakan telah memahami suatu konsep apabila ia telah mampu mengenali dan mengabstraksi sifat yang sama tersebut, yang merupakan ciri khas dari konsep yang dipelajari, dan telah mampu membuat generalisasi terhadap konsep itu. Artinya, siswa telah memaharni bahwa keberadaan konsep itu tidak lagi terkait dengan suatu benda konkret tertentu atau peristiwa tertentu, tetapi bersifat umum (general).

7) Belajar aturan

Aturan adalah suatu pemyataan yang memberikan petunjuk kepada individu bagaimana harus bertindak dalam menghadapi situasi-situasi tertentu. Belajar aturan adalah kegiatan memahami pemyataan-pemyataan dan sekaligus menggunakannya pada situasi-situasi yang sesuai. Beberapa contoh aturan dalam matematika adalah aturan sinus, aturan cosinus.

8) Pemecahan masalah

Pemecahan masalah merupakan kegiatan belajar yang paling kompleks. Suatu soal dikatakan merupakan masalah bagi seseorang apabila orang itu memahami soal tersebut, dalam arti mengetahui apa yang diketahui dan apa yang diminta dalam soal itu, dan belum mendapatkan suatu cara yang untuk memecahkan soal itu. Untuk dapat memecahkan suatu masalah, seseorang memerlukan pengetahuan-pengetahuan dan kemampuan-kemampuan itu harus diramu dan diolah secara kreatif, dalam rangka memecahkan masalah yang bersangkutan.

7. Prestasi dan Basil Belajar

Winkel (1999:34) berpendapat bahwa hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai seseorang di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Sedangkan prestasi belajar (achievement) adalah tingkat kemampuan seseorang siswa dalam menguasai bahan pelajaran yang telah diajarkan kepadanya (Depdikbud,1999). ladi, dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak seseorang siswa, sedangkan prestasi belajar adalah tingkat kemampuan seseorang siswa, baik aspek pengetahuan maupun keterampilan.

8. Pembelajaran Matematika

Pemikiran yang mendasari pembelajaran matematika adalah kemampuan berpikir kritis, sistimatis, logis, kreatif, dan bekerja sama yang efektif sangat diperlukan dalam kehidupan moderen yang kompetitif ini. Kemampuan itu dapat dikembangkan melalui belajar matematika. Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan, dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafIk atau tabel (Nurhadi 2002:203). Model pembelajaran mengikuti kaidah pedagogik secara umum, yaitu pembelajaran diawali dari konkret ke abstrak, dari sederhana ke kompleks, dan dari mudah ke sulit, dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Belajar akan bermakna bagi siswa apabila mereka aktif dengan berbagai cara untuk mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Dengan demikian, suatu rumus, konsep, atau prinsip dalam matematika, seyogyanya ditemukan kembali oleh si pebelajar di bawah bimbingan guru. Pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk menemukan kembali membuat mereka terbiasa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu (KBK. 2004).

9. Makna Belajar Matematika

Belajar merupakan proses aktif mengkonstruksi dan merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki. Proses tersebut berisikan antara lain 1) belajar berarti membuka kata, 2) konstruksi arti adalah proses yang berjalan terus menerus dan konstruksi arti dipengaruhi oleh pengertian yang telah dimiliki oleh seseorang, 3) belajar adalah suatu pengembangan pemikiran dengan cara membuat pengertian baru dan bukan hanya sekedar pengumpulan kata, 4) proses belajar terjadi pada waktu "skema" seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut, 5) hasil belajar bergantung pada apa yang telah diketahui dan dipengaruhi oleh pengalaman siswa dalam dunia fIsik dan lingkungannya (Depdiknas, 1999).

10. Fungsi dan Tujuan Mempelajari Matematika

Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan, dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan tujuan pembelajaran matematika adalah 1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi, 2) mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba, 3) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2003).

11. Pembelajaran Bangun Ruang

1. Standar Kompetensi

Memahami sifat-sifat tabung, kerucut dan bola serta menentukan ukurannya.

2. Kompetensi Dasar

a. Mengidentifikasi unsur-unsur tabung, kerucut dan bola.

b. Menghutung luas selimut dan volum tagung, kerucut dan bola.

c. Memcahkan masalah yang berkaitan dengan tabung, kerucut dan bola.

3. Indikator

a. Menyebutkan unsur-unsur : jari-jari/diameter, tinggi, sisi, alas dari tabung, kerucut dan bola.

b. Menghitung luas selimut tabung, kerucut dan bola.

c. Menentukan luas permukaan tabung, kerucut dan bola.

d. Menghitung volum tabung, kerucut dan bola.

e. Menghitung unsur-unsur tabung, kerucut dan bola jika volumnya diketahui.

f. Menggunakan rumus luas dan tabung untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan tabung, kerucut dan bola.

g. Menggunakan rumus volum untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan tabung, kerucut dan bola

C. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran adalah dasar pemikiran dan penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan telaah kepustakaan (Riduan, 2004:25).

Keefektivan suatu model pembelajaran merupakan suatu standar keberhasilan. Artinya semakin berhasil pembelajaran tersebut mencapai tujuan yang telah ditentukan, berarti semakin tinggi tingkat keefektivannya. Tingkat efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Perilaku pendidik yang efektif, antara lain: 1) mengajar dengan jelas, 2) menggunakan variasi model pembelajaran, 3) menggunakan variasi sumber belajar, 4) antusiasme, 5) memberdayakan peserta didik, 6) menggunakan konteks (lingkungan) sebagai sarana pembelajaran, 7) menggunakan jenis penugasan, dan 8) pertanyaan yang membangkitkan daya pikir dan keingintahuan.

Sedangkan perilaku peserta didik yang efektif adalah 1) motivasi/ semangat belajar, 2) keseriusan, 3) perhatian, 4) pencatatan, 5) pertanyaan, 6) senang melakukan latihan, dan 7) sikap belajar yang positif.

Bangun ruang adalah cabang dari matematika yang banyak mempelajari jaring-jaring, luas dan volum. Tujuan mempelajari matematika adalah 1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsisten, 2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba, 3) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas 2003). Dengan demikian pembelajaran bangun ruang tidak ditekankan pada kemampuan menghafal fakta-fakta, tetapi mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri. Melalui metode student active learning dengan multimedia power point siswa diharapkan belajar mengalami, bukan menghafal, dan menekankan pada pemecahan masalah.

Berdasarkan uraian di atas dengan skenario seperti tersebut diatas dimunculkan suatu hipotesis tindakan sebagai berikut :

  1. Pembelajaran dengan metode student active learning matematika bangun ruang dengan multimedia power point merupakan skenario pembelajaran matematika yang dapat menunbuhkan semangat siswa mencapai kompetensi dasarnya.
  2. Pembelaajaran matematika bangun ruang dengan multimedia power point dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, keterampilan, dan hasil belajar siswa.

BAB III

METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. SUBJEK PENELITIAN

Subjek yang diteliti atau sampel yang diteliti adalah siswa yang mendapat pembelajaran Bangun Ruang pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Pasekan Indramayu. Sebuah sekolah yang jauh dari kota besar dimana perhatian orang tuanya tidak begitu peduli. Umumnya mereka berasal dari orang tua ekonomi bawah.

B. WAKTU DAN LAMA PENELITIAN

Penelitian ini berlansung selama 6 bulan. Pada empat bulan pertama digunakan sebagai persiapan: mengurus perijinan, mempersipakan rencana pembelajaran, menyusus modul dalam multimedia power point, menyusun skenario SAL, menyusun instrumen pengamatan, instrumen tes, dan alat evaluasi. Dalam penelitian ini disusun 3 rancangan pembelajaran untuk 3 siklus. Pada pelaksanaannya direvisi pada setiap siklus berjalan. Tiga bulan pertama melaksanakan tindakan kelas, dengan siklus 2 dan 3 dilakukan revisi berdasar hasil refleksi siklus sebelumnya. Pada bulan terakhir menyususn laporan kemajuan penelitian yang akan diseminarkan.

C. VARIABEL PENELITIAN

Variabel indikator yang diamati dalam penelitian ini meliputi :

a. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

b. Keterampilan dalam menggunakan multimedia power point

c. Hasil belajar siswa.

D. SIKLUS KEGIATAN

Kegiatan diterapkan dalam upaya menumbuhkan jiwa siswa mempunyai semangat kepemimpinan yang mampu memecahkan masalah yang dihadapi maupun yang dibebankan padanya. Tahapan langkah disusun dalam siklus penelitian. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dirancang dalam 3 siklus. Sebagai langkah-langkah besar yang dilakukan sebagai berikut :

Siklus 1: Perencanaan

a. Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 2. Penekanan perencanaan disini adalah menyiapkan siswa benar-benar berada pada suasana penyadaran diri seperti konsep kerjasama yang rela berkorban. Persiapan ini akan ditemukan terlebih dahulu antara guru, dan siswa di luar jam.

b. Menyiapkan modul berupa tugas rumah maupun soal SAL: Isi modul ini berupa ringkasan materi dan soal yang kemas dalam multimedia power point matematika. Soal-soal dikerjakan sebaiknya dalam kelompok. Modul ini diberikan pada saat tatap muka pada poin a di atas.

c. Menyiapkan modul tugas untuk dibahas pada pertemuan siklus 2.

Pelaksanaan

a. Guru mitra menampung semua permasalahan yang muncul setelah siswa mempelajari modul yang diberikan sebelumnya.

b. Permasalahan dibahas bersama dengan tanya jawab. Bila masalah muncul dari kelompok, maka pemecahannya dilakukan dengan model SAL untuk tim lain. Penyelesaian masalah dapat poin bintang atas nama kelompok dan atas nama pribadi.

c. Guru memperjelas atau mempertegas materi yang sedang dipelajari.

d. Guru memberikan soal-soal dalam multimedia power point untuk tahap pertama yakni soal yang harus dipecahkan dalam kelompok. Dalam kegiatan ini di bawah pengawasan bimbingan.

e. Guru memberi soal-soal antar kelompok untuk tahap kedua. Soal dibuat hampir mirip soal pertama. Hanya mungkin soal-soal diganti bilangannya, atau diubah susunannya. Dengan cara kompetisi pada suatu kecepatan yang dituntut, maka siswa akan bersemangat mengerjakannya.

f. Pada suatu penyelesaian suatu masalah soal siswa atau kelompok yang berhasil wajib menjelaskan pada kelompok lain.

Pengamatan

a. Guru mengamati apakah jiwa kepemimpinan heroik sudah dapat dilaksanakan oleh siswa dalam pembelajaran siklus 1.

b. guru mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan siswa. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pelajaran hingga akhir pelajaran. Berikan penilaian untuk masing-masing siswa tentang indikator keaktifan dan ketrampilan proses yang telah disiapkan.

c. Guru mengamati jalannya pembelajaran dengan multimedia power point tahap pertama. Adakah permasalahan yang dihadapi siswa. Pada bagian-bagian mana mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.

d. Guru mengamati jalannya pembelajaran dengan multimedia power point tahap kedua. Dilakukan evaluasi pada individu-individu yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya.

Refleksi

a. Secara kolaboratif guru menganalisis hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan siklus 1.

b. Mendiskusikan hasil analisis berdasar indikator pengamatan, dan indikator soal turnamen. Membuat suatu perbaikan tindakan atau rancangan revisi berdasar hasil analisis pencapaian indikator-indikator tersebut.

Siklus 2 : Perencanaan

a. Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 2 dengan melakukan revisi sesuai hasil reflesi siklus 1. Penekanan perencanaan disini adalah menekankan semangat dalam menyelesaikan masalah.

b. Menyiapkan modul berupa tugas rumah maupun soal SAL dengan multimedia power point untuk dilaksanakan pada siklus 3.

Pelaksanaan

a. Guru mitra didampingi dosen konsultan kembali menampung semua permasalahan yang muncul setelah siswa mempelajari modul yang diberikan sebelumnya.

b. Permasalahan dibahas bersama dengan model tanya jawab sambil menjelaskan materi yang sedang dipelajari. Kembali masalah yang muncul berupa soal dikompetisikan pada kelompok lain. Bagi mereka yang dapat menyelesaikan masalah berupa soal mendapat poin bintang, dan mereka harus sanggup menjelaskan solusinya pada kelompok lain.

c. Guru memperjelas atau mempertegas materi yang sedang dipelajari.

d. Guru kembali memberikan soal SAL dengan MPP untuk tahap pertama yakni turnamen dalam kelompok. Dalam kegiatan ini di bawah pengawasan dan bimbingan dua guru.

e. Guru kembali memberi soal turnamen antar kelompok untuk tahap kedua. Teknik yang dilakukan dalam turnamen ini benar-benar harus memperhatikan keaktifan pada siklus 1. Diharapkan pada turnamen ini lebih baik dan lebih aktif dari pada turnamen siklus 1.

Pengamatan

a. guru mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan siswa. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pelajaran hingga akhir pelajaran. Berikan penilaian lagi untuk masing-masing siswa tentang indikator keaktifan dan ketrampilan proses.

b. Guru mengamati jalannya turnamen tahap pertama dan kedua. Guru membandingkan dengan pelaksanaan pada siklus 1 dan siklus 2.

c. Guru mengamati jalannya turnamen tahap kedua. Dilakukan evaluasi pada individu-individu yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya.

Refleksi

a. Secara kolaboratif guru dan dosen menganalisis hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan siklus 1.

b. Mendiskusikan hasil analisis berdasar indikator pengamatan, dan indikator soal turnamen. Kali ini ditekankan pada refleksi kegiatan dan ketrampilan untuk tiap individu. Apakah tiap individu sudah mulai terbiasa dengan turnamen, dan sudah mulai terlatih memecahkan masalah.

Siklus 3

Perencanaan

a. Meninjua kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 3. Disini benar-benar dipersiapkan lebih terarah pada indikator pencapaian. Penekanan pada kemampuan individual, karena pada finalnya akan dilakukan evaluasi tes akhir untuk mengetahui apakah ada pengaruh ketrampilan proses terhadap hasil belajar.

b. Menyiapkan instrumen tes akhir dan meninjau lebih detil tentang indikator keaktifan dan indikator ketrampilan proses secara individual.

c. Mempersiapkan bantuan lebih khusus pada siswa-siswa yang belum kelihatan aktif atau bermasalah dalam SAL MPP matematika.

Pelaksanaan

a. Guru mitra didampingi konsultan kembali menampung semua permasalahan yang muncul setelah siswa mempelajari modul yang diberikan sebelumnya.

b. Permasalahan dibahas bersama dengan model tanya jawab sambil menjelaskan materi yang sedang dipelajari. Kembali masalah yang muncul berupa soal dikompetisikan pada kelompok lain. Kompetisi kali ini lebih ditekankan pada siswa yang belum pernah ada kesempatan, atau belum kelihatan aktif.

c. Guru memperjelas atau mempertegas materi yang sedang dipelajari.

d. Guru kembali memberikan soal SAL MPP untuk tahap pertama yakni turnamen dalam kelompok. Dalam kegiatan ini di bawah pengawasan dan bimbingan guru.

e. Guru kembali memberi soal turnamen antar kelompok untuk tahap kedua. Teknik yang dilakukan dalam SAL MPP ini benar-benar harus memperhatikan keaktifan tiap individu.

Pengamatan

a. guru mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan siswa. Dilihat secara jeli terhadap semua indikator pencapaian. Apakah setiap individu sudah memenuhi standar minimal pencapaian indikator.

b. Guru mengamati jalannya turnamen tahap pertama dan kedua. Pengamatan ini lebih ditekankan pada pencapaian dan kecepatan penyelesaian masalah.

Refleksi

a. Secara kolaboratif guru menganalisis hasil pengamatan, hasil tes. Selanjutnya membuat suatu simpulan terhadap pencapaian indikator. Diharapkan pada siklus ini indikator pencapaian dapat dipenuhi.

b. Mendiskusikan hasil analisis berdasar indikator pengamatan, dan indikator soal turnamen. Mengevaluasi bagian-bagian mana yang telah berhasil dicapai, bagian mana yang layak ditindak lanjuti tentang kegiatan dengan pembelajaran dengan metode heroik dan turnamen ini.

c. Merefleksi tentang pelaksanaan penanaman jiwa kepemimpinan heroik. Membuat suatu simpulan bagaimana langkah yang baik guna menanamkan pada siswa jiwa kepemimpinan heroik yang baik.

E. INDIKATOR KINERJA

Indikator kinerja adalah intrumen pengumpulan data sebagai alat bantu yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas. Kriteria keberhasilanpembelajaran yang sesuai dengan tujuan akhir penelitian ini dengan perolehan skor dalam prosentase yang diadopsi dari Sa’adah (2000) adalah sebagai berikut :

a. Tingkat keaktifan siswa rata-rata selama proses pembelajaran dalam persentase

80 % : sangat baik

60 – 79 % : baik

40 - 59 % : cukup

20 – 39 % : rendah

< 20% : sangat rendah

Keaktifan siswa dalam pembelajaran diskoring dengan menggunakan skala likert ( 1 s.d 5) dengan target keberhasihan adalah 75 %.

b. Tingkat keterampilan proses siswa rata-rata selama proses pembelajaran dalam persentase

80 % : sangat baik

60 – 79 % : baik

40 - 59 % : cukup

20 – 39 % : rendah

< 20% : sangat rendah

Tingkat keterampilan proses siswa diskoring dengan menggunakan skala likert ( 1 s.d 5 ) dengan indikator pencapaian 60 %.

c. Tingkat keberhasilan belajar siswa dalam persentase

80 % : sangat tinggi

60 – 79 % : tinggi

40 - 59 % : sedang

20 – 39 % : rendah

< 20% : sangat rendah

Tingkat keberhasilan siswa diskoring dengan rentang 0 – 100, dengan prosentase hasil tuntas adalag 65 %.

F. PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN DATA

a. Data kualitatif keaktifan dan keterampilan proses dengan pengamatan untuk variabel keaktifan dan keterampilan proses.

b. Data hasil pengamatan dan tes diolah dengan analisis deskriptif untuk menggambarkan keadaan peningkatan pencapaian indikator keberhasilan tiap siklus

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGUKURAN VARIABEL SIKLUS 1

Berdasarkan data hasil pengukuran variabel keaktifan siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 1, maka dilakukan pengolahan data untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dengan mempersentasekan jumlah keterlibatan siswa pada proses pembelajaran siklus 1, memcapai 54,29 % dengan kriteria cukup.

Untuk hasil pengukuran variabel ketrampilan proses siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 5, maka dilakukan pengolahan data untuk mengukur keterampilan proses siswa dengan mempersentasekan jumlah siswa pada proses pembelajaran pada siklus 1, mencapai kurang dari 48,57 % dengan kriteria kurang.

Adapan hasil pengukuran variabel tingkat keberhasilan siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 9, mencapai ketuntasan dengan persentase 48,57 %, dengan kriteria sedang.

Secara lengkap data hasil pengamatan tersebut disajikan pada tabel-1 berikut :

Tabel -1

Data Hasil Pengamatan Variabel Keaktifan, Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX A SMP Negeri 1 Pasekan Indramayu

(siklus 1)

No

Variabel

Rata-rata (%)

Keterangan

1

Keaktifan

54,29

cukup

2

Keterampilan proses

48,57

kurang

3

Hasil belajar

48,57

sedang

B. HASIL PENGUKURAN VARIABEL SIKLUS 2

Berdasarkan data hasil pengukuran variabel keaktifan siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 2, maka dilakukan pengolahan data untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dengan mempersentasekan jumlah keterlibatan siswa pada proses pembelajaran siklus 2, memcapai 68,57 % dengan kriteria baik.

Untuk hasil pengukuran variabel ketrampilan proses siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 6, maka dilakukan pengolahan data untuk mengukur keterampilan proses siswa dengan mempersentasekan jumlah siswa pada proses pembelajaran pada siklus 2, mencapai kdari 60 % dengan kriteria baik.

Adapan hasil pengukuran variabel tingkat keberhasilan siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 10, mencapai ketuntasan dengan persentase 62,86 %, dengan kriteria tinggi.

Secara lengkap data hasil pengamatan tersebut disajikan pada tabel-1 berikut :

Tabel -2

Data Hasil Pengamatan Variabel Keaktifan, Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX A SMP Negeri 1 Pasekan Indramayu

(siklus 2)

No

Variabel

Rata-rata (%)

Keterangan

1

Keaktifan

68,57

baik

2

Keterampilan proses

60

sedang

3

Hasil belajar

62,86

tinggi


C. HASIL PENGUKURAN VARIABEL SIKLUS 3

Berdasarkan data hasil pengukuran variabel keaktifan siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 3, maka dilakukan pengolahan data untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dengan mempersentasekan jumlah keterlibatan siswa pada proses pembelajaran siklus 3, memcapai 77,14 % dengan kriteria baik.

Untuk hasil pengukuran variabel ketrampilan proses siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 7, maka dilakukan pengolahan data untuk mengukur keterampilan proses siswa dengan mempersentasekan jumlah siswa pada proses pembelajaran pada siklus 3, mencapai kurang dari 65,71 % dengan kriteria baik.

Adapan hasil pengukuran variabel tingkat keberhasilan siswa sebagaimana disampaikan pada lampiran 11, mencapai ketuntasan dengan persentase 60 %, dengan kriteria cukup.

Secara lengkap data hasil pengamatan tersebut disajikan pada tabel-1 berikut :

Tabel -3

Data Hasil Pengamatan Variabel Keaktifan, Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX A SMP Negeri 1 Pasekan Indramayu

(siklus 3)

No

Variabel

Rata-rata (%)

Keterangan

1

Keaktifan

77,14

Baik

2

Keterampilan proses

65,71

Baik

3

Hasil belajar

60

Cukup

D. PEMBAHASAN

Pada siklus 1 pengamatan dari proses pembelajaran menunjukkan bahwa keaktifan siswa masih kurang hanya 54,29 %, keterampilan proses masih kurang sekali dibawah 48,57 % dan hasil belajar masih sedang, hanya 48,57 %. Hal ini kemungkinan disebabkab karena siswa mungkin masih kurang antusias mungkin karena siswa belum dapat beradaptasi dengan model pembelajaran yang selama ini mereka terima. Oleh karena itu pengamat melakukan refleksi terhadap siklus 1 sebagai berikut :

1. Tingkat keaktifan sisiwa masih dalam taraf cukup dan keterampilan proses masih rendah. Hal ini masih jauh dari target pencapaian keaktifan dan target pencapaian keterampilan proses.. Hal ini disebabkan karena baik guru maupun siswa masih dalam taraf penyesuaian. Siswa masih belum terbiasa bekerja sama dalam kelompok. Maka pada siklus berikutnya harus ada peningkatan yang signifikan.

2. Hasil belajar siswa masih rendah dikarenakan siswa belum dapat beradaptasi dalam kelompoknya, sehingga siswa yang diatas rata-rata belum bisa memimpin kelompoknya.

Setelah dilakukan evaluasi dan refleksi pada siklus 1 menunjukkan perubahan yang signifiakan pada siklus 2, yaitu meningkat menjadi baik ( 68,57%) untuk keaktifan dan 60 % untuk keterampilan proses, sedangkan untuk hasil belajar siswa meningkat menjadi 62,86 %. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya dari guru dan siswa untuk mengjalan fase-fase pembelajaran student active learning dengan media pembelajaran power point. Tetapi peningkatan tersebut masih belum dapat mencapai target keaktifan, keterampilan proses dan hasil belajar siswa. Sehingga pengamat perlu melakukan evaluasi dan refleksi pada siklus 2, yaitu sebagai berikut :

1. Tingkat keaktifan dan keterampilan proses siswa meningkat karena dalam proses pembelajaran guru sudah melaksanakan sebagaian fase-fase pembelajaran student active learning. Tetapi semuanya masih perlu ditingkatkan lagi, terutama memberi motivasi kepada siswa-siswa yang masih belum kooperatif dalam pembelajaran, dan penyempurnaan pada bagian-bagian yang kurang sempurna.

2. Hasil belajar siswa meningkat karena pada penyusunan rencana pembelajaran diperhatikan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus 1 untuk dilakukan perbaiakan pada siklus 2 antara laian :

a. Materi yang disajikan untuk kelompok divariasikan menjadi lima jenis soal yang yang berbeda sehinggga siswa dapat saling bertukar pengalaman dan informasi.

b. Kelompok yang dibentuk guru dengan memperhatikan heterogenitas siswa yaitu mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa, jenis kelamin, dan antusiasme siswa pada pelajaran matematika.

c. Sebelum kelompok terbentuk guru terlebih dahulu memperkenalkan aturan-aturan dasar pembelajaran studen active learning dengan media power point, sehingga seluruh anggota kelompok mempelajari materi dengan tuntas.

Pada siklus 3, keaktifan siswa mencapai 77,14 % ( baik ) sehingga target keaktifan penelitian tindakan kelas yang dilakukan tercapai yaitu 75 %.Untuk keterampilan proses juga menunjukan peningkatan yang signifikan yaitu 65,71 %. Sedangkan untuk hasih belajar siswa yang tuntas pada siklus 3 mencapai 60 %. Hal ini tidak mecapai target ketuntasan belajar yang diharapkan. Reflesi untuk siklus 3 antara lain :

1. Tingkat keaktifan dan keterampilan proses siswa dengan model pembelajaran SAL dengan media power point mencapai target yang diharapkan.

2. Hasil belajar siswa belum mencapai target ketuntasan belajar, hal ini disebabkan oleh indikator soal-soal pada siklus 3 adalah soal analisis sehingga tingkat kesulitannya lebih tinggi dari pada soal siklus1 dan siklus 2.



BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Penerapan model pembelajaran Student Aktive Learning (SAL) dengan media Power Point, yang merupakan salah satu aplikasi dari pendekatan kontektual ( Contextual Teaching and Learning ) dengan kombinasi multimedia pada pembelajaran matematika materi bangun ruang ( Tabung, Kerucut dab Bola) di Kelas IXA SMP Negeri 1 Pasekan Indramayu dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dapat menigkatkan keaktifan, atusiasme dan menyenangkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

2. Dapat meningkatkan keterampikan siswa dalam memecahkan soal-soal yang diberikan.

3. Dapat meningkatkan hasil belajar khususnya dalam materi bangun ruang.

4. Dapat meningkatkan kreatifitas guru dengan menggunakan berbagai sumber pembelajaran dan pemilihan metode yang dapat mendorong terciptanya proses pembelajaran student active learning dengan pendekatan kontektual melalui multimedia.

B. SARAN

Dari uraian yang telah dikemukakan di muka dan berdasarkan hasil pengamatan, temuan, dan refleksi. Peneliti memberikan beberapa saran diantaranya sebagai berikut:

1. Bagi guru, sesuai dengan saran dalam kurikulum yang berlaku saat ini diharapkan dapat menerapkan variasi model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan ketrmapilan proses dalam pembelajarannya, salah satu alternatif model pembelajaran yang penulis sarankan adalah Student Aktive learning dengan media Power Point. Guru diharapkan untuk terus melakukan evaluasi proses pembelajaran, hal ini penting agar selalu dapat memperbaiki keterbatasan / kekurangan kita. Juga untuk meningkatkan kemampuan dalam menemukan metode dan teknik yang sesuai sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat dicapai.

2. Bagi peneliti, mengingat manfaat yang diperoleh dari penelitian ini, maka diharapkan menjadi pertimbangan bagi peneliti selanjutnya agar ada tindak lanjut dalam rangka untuk meningkatkan dan pengembangan profesi guru, agar kita disebut sebagai guru yang profesional sesuai dengan tuntutan pada Undang-undang Guru dan Dosen tahun 2005.

3. Bagi Sekolah dan Lembaga pendidikan lainnya, agar selalu memberikan dorongan, motivasi, dan sumbangsihnya baik moril maupun materil kepada para guru untuk melakukan penelitian-penelitian yang sederhana yaitu penelitian tindakan kelas, yang sudah barang tentu akan memberikan dampak positif, khusunya bagi guru tersebut dan umumnya bagi sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.

DAFRAT PUSTAKA

Mohammad Surya, 2003, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Yayasan Bakti Winaya.

Sukestiyarno, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Penyusunan Proposal: Pelatihan Bimbingan Teknis Pengembangan Akademis Guru SMP dan SMA. UNNES.Tanpa penerbit

Ali Nugraha, 2004, Student Active Learniing ( S A L ), Makalah pada pelatihan kreatifitas guru: Model-model Pembelajaran, Lembaga Pengembangan Pendidikan Salman ITB, Tanpa penerbit.

Ibrahim dan Karyadi, Beny, 1990, Pengembangan Inovasi dan Kurikulum, , Dekdikbud-P2TK, Jakarta.

Mudhofir, 1990, Teknologi Intructional,Bandung, Rosdakarya.

Kurikulum 2004 SMP Mata Pelajaran Matematika, 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilain, Jakarta: Depdiknas,.

Anton Noornia, 2004, Pengertian dan Disain Penelitian Tindakan ( Action Research ). Makalah dalam pelatihan Pembelajaran Berbasis Kompetensi.

Ali Nugraha, 2004, Student Active Learning ( SAL ), makalah pada pelatihan kreatifitas guru : Pengembangan model–model pembelajaran.

Nasar. 2006. Merancang Pembelajaran Aktif dann Kontekstual Berdasarkan “SISKO” 2006. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Nasution, Noehi. 1992. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Terbuka.

io engajarkesimpulan kator keaktifan dan hasil test. selanjutnya

Ruseffendi, ET., 1980, Pengajaran matematika modern untuk orang tua murid, guru, dan SPG, Bandung : Tarsito.

Sardiman. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor–Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.

Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineke Cipta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar