Senin, 03 Mei 2010

Landasan Pendidikan Matematika

LANDASAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA ( MIPA )

By : H.I.Z. Mutaqin, M.Pd

1. Perkembangan dunia pendidikan MIPA semakin hari semakin memerlukan inovasi baik aspek penyajian/proses, media maupun materi bahan ajar. Sehubungan dengan tantangan itu, cobalah buat deskripsi tentang

A. Hakikat Pembelajaran Matematika

Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diketakkan dasar-dasar bagaimana mengembangan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi lain atau ilmu lain.

Ketika materi-materi matematika dipadang sebagai sekumpulan suatu keterampilan yang tidak berhubungan satu sama lain, maka pembelajaran matematika hanya sebuah perkembangan keterampilan belaka. Kita seharusnya memandang matematika secara fleksibel dan memahami hubungan serta keterkaitan antara ide dan gagasan-gagasan matematika yang satu dengan lainnya. Untuk mempromosikan pandangan ini National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) merekomendasikan empat prinsip yaitu :

1. Matematika sebagai pemecah masalah

2. Matematika sebagai penalaran

3. Matematika sebagai komunikasi

4. Matematika sebagai hubungan.

Selain empat rekomendasi tersebut diatas, NCTM (1989) menambahkan dengan estinasi dan struktur matematika yang membantu dalam menggenerasikan matematika secara komperehensip dan holistik.

Pengembangan konsep dalam materi-materi matematika seharusnya tidak dibatasi oleh topic yang sedang dibahas saja, melainkan dikaitkan dengan topic-topik yang relevan, bahkan dengan bidang studi lainya jika memungkinkan secara terpadu. Pembelajarn matematika yang erpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik bahkan jika memungkinkan dengan displin. Konsep pembelajaran matematika mempertinbangan siswa sebagai pembelajar dan proses yang melibatkan pengembangan berpikir dan belajar. Karena secara umum, para siswa sulit untuk berpikirsecara parsial tentang apa yang meraka pelajari, tetapi mereka cenderung memandang “dunia sekitar” secara holistik. Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang komprehensip dan holistik. ( lintas topic bahkan bidang studi lain jika memungkinkan) tentang materi yang telah disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memanuhi tuntutan an tujuan pembelajaran matematika secara subtantif saja, namun diharapkan pula muncul “efek iringan” dari pelajaran matematika tersebut. Efek iringan yang dimaksud adalah anatara lain ;

• Lebih memahami keterkaitan antara satu topic matematika dengan topic matematika lainnya.

• Leih menyadari akan pentingnya dan strategisnya matematika bagi bidang lain.

• Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia.

• Lebih mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis

• Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah.

• Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.

Ketercapaian dua sasaran pembelajaran matematika secara subtantif dan efek iringannya akan tercapai apabila siswa diberi kesempatan seluas-luanya untuk belajar matematika (doing math) secara komprehensip dan holistik. Belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, learning to be, dan learning to live together. Oleh karena itu filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi pembelajaran matematika.

Pemikiran bahwa pembelajaran matematika lebih utama dibandingkan dengan pengajaran matematika dan bahwa matematika penting dan harus dikuasai oleh siswa secara komprehensif dan holistik,mengandung konsekuensi bahwa pembelajaran matematika seyogianya mengoptimalkan keberadaan dan peran siswa sebagai pembelajar . Karena filosofi antara pengajaran dan pembelajaran matematika sesungguhnya berbeda, maka “pengajaran”matematika harus berbah paradigmanya, yaitu:

1. Dari teacher centered menjadi learner centered

2. Dari teaching centered menjadi learning centered

3. Dari content based menjadi competency based

4. Dari product of learning menjadi process of learning

5. Dari summative evaluation menjadi formative evaluation

Sejumlah kelompok matematikawan dan pendidik matematika di Amerika Serikat mengusulkan sejumlah revisi atau pembaharuan kurikulum matematika, khususnya untuk jenjang sekolah menengah. Berikut ini dua buah saran dari sejumlah saran yang mereka rekomendasikan, yaitu:

1) A Contemporary course in high school mathematics should achieve the integration and unification of topics that have traditionally been segregated in a three-year sequence consisting of algebra, geometry, and intermediated algebra and trigonometry.

2) Student will benefit from the early introduction of practical modern aspects of mathematics, particularly logic, probability, and statistics.

Guru semestinya memandang kelas sebagai tempat dimana masalah masalah yang menarik di eksplore oleh siswa dengan menggunakan idea idea matematika . Sebagai contoh, seorang siswa dapat mengukur benda benda nyata secara langsung, mengumpulkan informasi dan menjelaskan apa yang mereka kumpulkan dengan menggunakan statistik atau menjelajahi sebuah fungsi melalui pengujian grafiknya. Dengan berlandaskan kepada prinsip pembelajaran matematika yang tidak sekedar learning to know, melainkan juga harus meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to live together, maka pembelajaran matematika seharusnya bersandakan pada pemikiran bahwa siswa yang harus belajar dan semestinya dilakukan secara komprehensip dan terpadu.

Sasaran subtantif dan efek iringan dari pembelajaran matematika melaui pemcapaian sasaran subtantif pembelajaran matematika, para siswa diarahkan untuk memahami dan menguasai konsep, dalil, teorema, generalisasi dan prnsip-prinsip matematika secara menyeluruh. Sementara melalui efek iringan mereka diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis. Melalui sasaran ini mereka diharapkan lebih memahami keterkaitan antar topic dalam matematika dan keterkaitan serta manfaat matematika bagi bidang lain. Mereka juga dituntut untuk hidup lebih tertib dan disiplin mencintai lingkungan sekitarnya, dan mampu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan matematika.

B. Filosofi Pembelajaran Matematika

Matematika secara umum didefinisikan sebagai bidang ilmu yang mempelajari pola dari struktur, perubahan, dan ruang; secara informal, dapat pula disebut sebagai ilmu tentang bilangan dan angka'. Dalam pandangan formalis, matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; ada pula pandangan lain, misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika.

Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam, dan sangat umum di fisika, tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri, misalnya, untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang, atau alat membantu untuk perhitungan biasa. Akhirnya, banyak matematikawan belajar bidang dilakukan mereka untuk sebab yang hanya estetis saja, melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai ilmu praktis atau terapan.

Kata "matematika" berasal dari kata μάθημα(máthema) dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai "sains, ilmu pengetahuan, atau belajar" juga μαθηματικός (mathematikós) yang diartikan sebagai "suka belajar". Disiplin utama dalam matematika didasarkan pada kebutuhan perhitungan dalam perdagangan, pengukuran tanah dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang matematika: studi tentang struktur, ruang dan perubahan.

Pelajaran tentang struktur dimulai dengan bilangan, pertama dan yang sangat umum adalah bilangan natural dan bilangan bulat dan operasi arimetikanya, yang semuanya itu dijabarkan dalam aljabar dasar. Sifat bilangan bulat yang lebih mendalam dipelajari dalam teori bilangan. Investigasi metode-metode untuk memecahkan persamaan matematika dipelajari dalam aljabar abstrak, yang antara lain, mempelajari tentang ring dan field, struktur yang menggeneralisasi sifat-sifat yang umumnya dimiliki bilangan. Konsep vektor, digeneralisasi menjadi vektor ruang dipelajari dalam aljabar linier, yang termasuk dalam dua cabang: struktur dan ruang.

Ilmu tentang ruang berawal dari geometri, yaitu geometri Euclid dan trigonometri dari ruang tiga dimensi (yang juga dapat diterapkan ke dimensi lainnya), kemudian belakangan juga digeneralisasi ke geometri Non-euclid yang memainkan peran sentral dalam teori relativitas umum. Beberapa permasalahan rumit tentang konstruksi kompas dan penggaris akhirnya diselesaikan dalam teori Galois. Bidang ilmu modern tentang geometri diferensial dan geometri aljabar menggeneralisasikan geometri ke beberapa arah:: geometri diferensial menekankan pada konsep fungsi, buntelan, derivatif, smoothness dan arah, sementara dalam geometri aljabar, objek-objek geometris digambarkan dalam bentuk sekumpulan persamaan polinomial. Teori grup mempelajari konsep simetri secara abstrak dan menyediakan kaitan antara studi ruang dan struktur. Topologi menghubungkan studi ruang dengan studi perubahan dengan berfokus pada konsep kontinuitas.

Mengerti dan mendeskripsikan perubahan pada kuantitas yang dapat dihitung adalah suatu yang biasa dalam ilmu pengetahuan alam, dan kalkulus dibangun sebagai alat untuk tujauan tersebut. Konsep utama yang digunakan untuk menjelaskan perubahan variabel adalah fungsi. Banyak permasalahan yang berujung secara alamiah kepada hubungan antara kuantitas dan laju perubahannya, dan metoda untuk memecahkan masalah ini adalah topik dari persamaan differensial. Untuk merepresentasikan kuantitas yang kontinu digunakanlah bilangan riil, dan studi mendetail dari sifat-sifatnya dan sifat fungsi nilai riil dikenal sebagai analisis riil. Untuk beberapa alasan, amat tepat untuk menyamaratakan bilangan kompleks yang dipelajari dalam analisis kompleks. Analisis fungsional memfokuskan perhatian pada (secara khas dimensi tak terbatas) ruang fungsi, meletakkan dasar untuk mekanika kuantum di antara banyak hal lainnya. Banyak fenomena di alam bisa dideskripsikan dengan sistem dinamis dan teori chaos menghadapi fakta yang banyak dari sistem-sistem itu belum memperlihatkan jalan ketentuan yang tak dapat diperkirakan. Agar menjelaskan dan menyelidiki dasar matematika, bidang teori pasti, logika matematika dan teori model dikembangkan. Saat pertama kali komputer disusun, beberapa konsep teori yang penting dibentuk oleh matematikawan, menimbulkan bidang teori komputabilitas, teori kompleksitas komputasional, teori informasi dan teori informasi algoritma. Kini banyak pertanyaan-pertanyaan itu diselidiki dalam ilmu komputer teoritis. Matematika diskret ialah nama umum untuk bidang-bidang penggunaan matematika dalam ilmu komputer.

Bidang-bidang penting dalam matematika terapan ialah statistik, yang menggunakan teori probabilitas sebagai alat dan memberikan deskripsi itu, analisis dan perkiraan fenomena dan digunakan dalam seluruh ilmu. Analisis bilangan menyelidiki teori yang secara tepat guna memecahkan bermacam masalah matematika secara bilangan pada komputer dan mengambil kekeliruan menyeluruh ke dalam laporan.

Menurut metode aksiomatik, di mana sifat-sifat tertentu (sebaliknya tak dikenal) struktur diambil dan kemudian secara logis akibat dari itu are then logically diturunkan, Bertrand Russell berkata:

Matematika dapat didefinisikan sebagai subyek yang mana kita tidak pernah tau tentang apa yang sedang kita bicarakan, maupun apa yang tidak kita katakan benar.

Mungkin ini menjelaskan mengapa John von Neumann berkata suatu kali:

Dalam matematika Anda takkan memahami hal. Anda benar-benar mengambilnya dulu.

Tentang indahnya matematika, Bertrand Russell berkata dalam Study of Mathematics:

Matematika, sudah sepantasnya dipandang, tak hanya memiliki kebenaran, namun keindahan tertinggi – dingin dan cermat yang bagus, seperti pahatan itu, tanpa menarik setiap bagian sifat lemah kita, tanpa hiasan indah lukisan atau musik, masih murni sama sekali, dan kemampuan kesempurnaan keras seperti hanya seni terbesar dapat mempertunjukkan. Jiwa kesenangan yang sesungguhnya, keagungan, arti badan lebih daripada manusia, yang merupakan batu ujian keunggulan tertinggi, untuk ditemukan dalam matematika seperti tentu saja puisi.

Menguraikan simetri antara aspek penciptaan dan logika matematika, W.S. Anglin mengamati, dalam Mathematics and History:

Matematika bukanlah gerakan turun hati-hati jalan raya yang bebas, namun perjalanan dalam hutan belantara yang asing, di mana penjelajah sering kehilangan. Kekerasan akan menjadi tanda untuk sejarawan yang mana peta telah dibuat, dan penjelajah sesungguhnya telah pergi ke tempat lain.

Matematika bukan numerologi. Walau numerologi memakai aritmatika modular untuk mengurangi nama dan data pada bilangan digit tunggal, numerologi secara berubah memberikan emosi atau ciri pada bilangan tanpa mengacaukan untuk membuktikan penetapan dalam gaya logika. Matematika ialah mengenai gagasan pembuktian atau penyangkalan dalam gaya logika, namun numerologi tidak. Interaksi antara secara berubah emosi penentuan bilangan secara intuitif diperkirakan daripada yang telah diperhitungkan secara seksama.

Matematika bukan akuntansi. Meskipun perhitungan aritmetika sangat krusial dalam pekerjaan akuntansi, utamanya keduanya mengenai pembuktian yang mana perhitungan benar melalui sistem pemeriksaan ulang. Pembuktian atau penyangkalan hipotesis amat penting bagi matematikawan, namun tak sebanyak akuntan. Kelanjutan dalam matematika abstrak menyimpang pada akuntansi jika penemuan tak dapat diterapkan pada pembuktian efisiensi tata buku konkret. Matematika bukan sains, karena kebenaran dalam matematika tidak memerlukan pengamatan empiris Matematika bukan fisika, karena fisika adalah sains

C. Perbedaan Prinsip Paradigama Pembelajaran MIPA dan Non MIPA seperti IPS atau Ilmu-ilmu Budaya

Perbedaan prinsip paradigma pembelajaran matematika dan non-matematika dapat kita bedakan dari pengertian, tujuan dan karakteristinya.

1. Pengertian

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.

2. Tujuan

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

· Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

· Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika

· Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh

· Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah

· Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Ilmu Pengetahuan Sosial mempunyai tujuan ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).

· Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

· Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.

· Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.

· Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.

· Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

3. Karateristik

Karakteristik mata pelajaran matematika antara lain sebagai berikut :

· Pembelajaran matematika berjenjang (bertahap) yaitu dimulai dari hal yang konkret dilanjutkan ke hal yang abstrak, dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.

· Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral artinya dalam setiap memperkenalkan konsep yang baru selalu berkaitan dengan bahan yang telah dipelajari.

· Menekankan pola berpikir secara deduktif yaitu tersusun secara deduktif aksiomatik

· Menganut kebenaran konsistensi yaitu kebenaran dalam matematika sesuai dengan struktur deduktif aksiomatiknya. Tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar jika didasarkan atas pernyataan terdahulu yang telah diterima kebenarannya.

Karateristik mata pelajaran IPS antara lain sebagai berikut.

· Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).

· Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.

· Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.

· Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).

D. Perkembangan Multimedia dalam Pembelajaran Matematika

Dalam bukunya Intructional Media and Teknologi for Learning, Heinich dkk.(1996) menyatakan bahwa keseluruhan sejarah, media dan teknologi telah mempengaruhi pendidikan. Pada masa kini misalnya komputer telah memberikan pengaruh yang kuat terhadap setting pembelajaran. Multimedia yang demikian menawarkan kemingkinan untuk menjadi lebih baik dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi guru akan menjadi berbeda dalam mengintegrasikan multimedia dalam pembelajarannya. Peranan guru dan siswa jelas menjadi berubah karena pengaruh multimedia dan teknologi di dalam kelas. Kini guru dan buku bukan lagi satu-satunya sumber belajar atau sumber ilmu pengetahuan. Guru menjadi pengarah untuk akses ke dalam ilmu pengetahuan.

Heinich dkk (1996) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan susunan dari informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi belajar. Dengan menggunakan lingkungan ini dimaksudkan bukan hanya dimana pembelajaran berlangsung, melainkan juga metada, media, peralatan yang diperlukan untuk memberikan informasi, dan membimbing siswa belajar. Penyusunan informasi dan pembenahan lingkungan belajar umumnya tanggung jawab dari pengajar dan pendesain multimedia. Pemilihan strategi pembelajaran menentukan lingkungan serta cara informasi itu dirakit dan digunakan. Guru senantiasa merencanakan proses pembelajaran, bekerja sama guru-guru dan ahli multimedia, bagi guru dapat mengitegrasikan multimedia ke dalam proses pembelajarannya sehingga dapat memperbesar perolehannya yang berdampak pada peningkatan prestasi siswa.

Proses pembelajaran melibatkan pemilihan penyususunan dan pengiriman informasi dalam suatu lingkungan yang sesuai dan cara siswa beriteraksi dengan informasi tersebut. Media merupakan jamak dari kata medium adalah suatu saluran untuk komunikasi, yang merujuk pada suatu yang membawa informasi dari pengirim ke penerima informasi. Masuk di dalamnya antara lain : film, televisi, diagram, materi tercetak, komputer dan intruktur. Yang demikian dipandang sebagai multimedia ketika mereka membawa pesan dengan suatu maksud pembelajaran.

Beberapa multimedia yang dikenal dalam pembelajaran antara lain (1) Media non projected antara lain : fotografi, sajian (display), dan model-model, (2) Media projected antara lain slide, filmstrip, transparansi, dan komputer proyektor. (3) Media dengan seperti halnya kaset, compact disk, (4) Media gerak seperti video, dan film (5) komputer, multimedia (6) serta media yang digunakan untuk belajar jarak jauh seperti halnya radio, televisi dan internet. Namun pada dasarnya multimedia terkelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu media sebagai pembawa informasi (ilmu pengetahuan), dan media yang sekaligus merupakan alat untuk menanamkan konsep seperti halnya alat-alat peraga pendidikan matematika.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi berbagai segi kehidupan, seperti halnya kalkulator dan komputer. Teknologi ini sangat membantu memperingan tugas manusia dalam mengkakulasi dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat administratif. Demikian halnya dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan matematika, komputer membawa dampak bagaimana matematika hasur diajarkan guru dan dipelajari siswa. Hal ini menimbulkan kontroversi antara kubu yang enggan menggunakan teknologi multimedia dan kubu yang memandang pentinganya pemberdayaan teknologi multimedia dalam pembelajaran matematika. Untuk menjembatani jurang antara kedua kubu tersebut, melalui berbagai penelitian diperoleh jawaban bahwa guru matematika perlu mengakaji potensi penamanfaatan teknologi multimedia melalui kegiatan matematika dan dalam mengkomunikasikan ide-ide matematik.

Banyak penelitian yang menunjukkan keefektipan penggunaan multimedia dalam meningkatkan pemahaman kognitif siswa. Oleh karena itu tidaklah heran jika organisasi-organisasi profesional seperti National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). Mathematical Association of America (MAA) dan The Mathematical Association (MA) merekomendasikan penggunaaan multimedia dalam pembelajaran matematika.

Sejak ditemukan ENIAC pada tahun 1946 di Amerika, perkembangan multimedia sangat pesat. Begitu hebatnya perkembangan pruduk teknologi ini berimbas pada duania pendidikan. Multimedia komputer memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pembelajaran matematika. Banyak hal yang abstrak dan imajinatif yang sulit dipikirkan siswa dapat dipresentasikan melalui simulasi komputer. Hal ini tentu saja akan lebih jauh menyederhanakan jalan pikiran siswa dalam memahami matematika. Dengan demikian pengembangan proses pembelajaran matematika dapat dilakukan guru dengan memberdayakan multimedia komputer.

Belakangan ini sudah cukup banyak sekolah yang memiliki komputer, tapi sayang komputer ini kebanyakan belum dimanfaatkan dalam pengajaran matematika, namun baru digunakan sebagai alat bantu dalam menyelesaikan administrasi atau memfunfsikan komputer sebagai mesin tik. Padahal banyak hal yang dapat dilakukan guru dengan komputer dalam pembelajaran matematika. Tentu saja hal ini menuntuk kreatifitas guru, harus bagaimana mempresentasikan matematika dalam kegiatan pembelajaran.

Multimedia komputer memberikan kesempatan kepada siswa lebih luas dalam menginvestigasi matematika daripada kalkulator. Hal ini disebabkan karena kemampuan memori dan monitor yang lebih sempurna. Berikut ini adalah contoh kegiatan matematika yang dapat dilakukan dengan multimedia komputer.

a. Memperkirakan akar suatu persamaan

b. Membuat dan mengamati grafik

c. Konsep limit

d. Mengestimasi luas daerah di bawah kurva

e. Statistik ; dan lain-lain

E. Perkembangan Keterampilan Berpikir Siswa dalam Pembelajaran MIPA

Pada umumnya, berpikir dianggap sebagai sebuah tuntutan/kebutuhan. Artinya, bila keadaan mengharuskan untuk berpikir, barulah (secara otomatis dan alami) pikiran bekerja. Misalnya, ketika menghadapi masalah, merencanakan sesuatu, maupun ketika bekerja yang memang memerlukan pemikiran (bukan pekerjaan yang monoton). Hal-hal seperti ini memang menuntut pikiran untuk bekerja. Namun bila keadaan biasa (santai), tidak menuntut aktivitas berpikir, hampir pasti pikiran tidak dibekerjakan—tidak diasah agar terampil dan tajam.

Pada sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa kemampuan berpikir—atau tepatnya keterampilan berpikir—adalah merupakan “gawan bayi” (watak bawaan). Ia tidak bisa diubah ke arah yang lebih baik. Usaha apa pun yang dilakukan, diprasangka akan sia-sia. Tidak banyak berarti bagi perkembangan keterampilan berpikir seseorang. Ironisnya, keterampilan berpikir ini umumnya disejajarkan dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik keterampilan berpikirnya. Sebaliknya, rendahnya jenjang pendidikan, diasumsi rendah pula etos pikirnya. Ironis lainnya, terampil berpikir ini disetarakan dengan terampil berbicara. Mereka yang terampil berbicara (di depan publik) dianggap pula terampil berpikir. Sedang yang kebetulan tidak pandai bicara, maka dianggaplah tidak terampil berpikir—walau ada kemungkinan sebagai pemikir yang baik. Yang lebih parah lagi, serangkaian mata pelajaran di sekolah maupun berbagai mata kuliah di perguruan tinggi, disepadankan sebagai sarana melatih keterampilan berpikir. Kegiatan pembelajarannya pun kemudian diasumsikan sebagai sarana melatih keterampilan berpikir.

Apakah memang demikian? Sama sekali tidak. Berpikir bukan hanya sekedar tuntutan/kebutuhan. Ia bisa diarahkan dan diubah menjadi sebuah keterampilan. Yaa, keterampilan berpikir namanya. Ia seperti halnya keterampilan-keterampilan lain pada umumnya. Keterampilan berenang, bernyanyi, akting, pidato, menulis buku, mengarang cerita, berjalan di atas tali, mengendarai sepeda roda satu, dan lain sebagainya. Kesemuanya butuh ”super serius” mempelajari dan mendalami agar menjadi terampil—dari peringkat sebelumnya yang sekadar bisa. Keterampilan berpikir ini bisa didalami oleh siapa saja tanpa memandang usia. Ia bahkan bisa dilatihkan pada anak sejak usia dini—sebagaimana yang diajarkan Edward de Bono pada anak-anak usia 10 tahun (Erlangga, 1988). Keterampilan ini bukan sifat/watak bawaan. Ia tidak bisa disejajarkan dengan tingkat pendidikan. Belum tentu mereka yang tinggi pendidikannya (walaupun telah mengantongi berbagai gelar S3 di berbagai disiplin ilmu), tingkat berpikirnya mesti baik. Sebab, nyatanya, tidak sedikit di antaranya yang justru memprihatinkan cara berpikirnya. Dan belum tentu pula anak yang usianya baru 10 tahun itu mesti belum bisa berpikir.

Salah satu contoh pikiran yang telah terampil bekerja (berpikir) adalah sebagaimana pengalaman muridnya de Bono yang baru berumur 10 tahun—yang kalau di Indonesia umur-umur sekian itu masih duduk di kelas 4 SD—ketika diberi pertanyaan: “Bagaimana sikap dan tanggapan Anda bila para murid yang sedang belajar di sekolah itu digaji?” Pikiran terampilnya telah bisa mengapresiasi dengan “sempurna”. Di antara hasil pemikirannya: “Sekolah itu (mencari ilmu agar pandai, cerdas, dan cakap) adalah butuhnya si murid, tidak sepantasnya bila ia mendapat gaji. Justru yang layak mendapat gaji adalah pengajarnya. Sebab merekalah yang telah bekerja keras, bersusah payah mendidik dan mencerdaskan para murid.” Dari pada dananya diberikan pada murid, lebih bijak bila dana tersebut dibelikan sarana pelengkap yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Toh para murid juga yang akan menuai hikmahnya, serta menjadikannya lebih pandai dan cerdas.” Pemberian gaji pada murid justru akan membelenggu dan meracuni pikiran si murid sendiri. Niatan belajarnya yang semula mencari ilmu, menambah wawasan dan pengetahuan, akan berubah menjadi mencari uang. Belajarnya kemudian tidak tulus dan tidak sungguh-sungguh, karena dalam hatinya hanya menanti gajian.”

Bagaimana dengan pembelajaran matematika? Pembelajaran matematika yang ada selama ini sama sekali tidak mengarah (menyasar) pada keterampilan berpikir. Bisa dibuktikan sendiri, adakah di antara alumni pendidikan kita yang terampil berpikir sebagaimana muridnya de Bono di atas? (Kalau memang ada, tentunya menjadi manusia langka yang sangat berbahagia akibat mempunyai keterampilan berpikir. Saya salut kepada beliaunya.)

Pendidikan terlanjur identik dengan pengajaran serangkaian mata pelajaran di kelas. Pendidikan tingginya (seolah-olah) hanya disamakan dengan penguasaan materi bahan kuliah. Yang pada akhirnya, ending pendidikan hanyalah ”angka-angka” (nilai rapor dan ijazah). Aneka cara modifikasi strategi dan pembaruan sistem pembelajaran, bongkar pasang kurikulum, tak banyak berarti bagi perkembangan keterampilan berpikir. Yang lebih ironis, banyak guru yang penerapan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) belum paham, sudah diganti dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). KTSP pun “nanti” belum berjalan sesuai harapan, (kira-kira saja) akan diganti lagi dengan KBLP (Kurikulum Berbasis Live Perfect), atau apa pun namanya. Begitu seterusnya, pergantian demi pergantian, perbaikan demi perbaikan, seolah tiada henti. Persis mottonya suzuki “inovasi tiada henti”. Namun sayang, hasilnya tak banyak berarti. Akankah perbaikan demi perbaikan menjamin perubahan menuju masyarakat terdidik yang terampil berpikir? Wallahu a’lam. Namun, secara logika saya optimis hasilnya tidak banyak berubah. Sebab, para praktisi pendidikan sendiri, baik tingkat paling atas (pejabat struktural) sampai yang paling bawah (guru mata pelajaran), tidak banyak yang memahami apa itu keterampilan berpikir. (Jangankan memahami, mengerti saja mungkin belum.)

Penyebabnya, pendidikan yang dulunya telah diterima, tidak mengajarkan bagaimana keterampilan ini mesti dikembangkan. “Kurikulum Nasional”-nya (dulu) juga tidak menekankan bagaimana mencerdaskan diri, mengembangkan diri, serta mengkreasi diri untuk terampil berpikir. Pintu kran untuk hal-hal semacam ini tertutup erat. Terkondisikan karena perintah atasan. Bila atasan tidak memerintah, maka bawahan dilarang bertindak—beride pun (mungkin) juga dilarang. Sehingga kreativitas berpikir bawahan sangat kecil, bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali. Mereka juga tidak mengembangkan bagaimana berpikir yang kritis, cerdas, dan bijak itu mesti dilatih dan diterapkan. Sebagaimana kritik Hutabarat dkk dalam bukunya Logika (Erlangga, 1999), “Bahwa banyak di antara pelajar dan mahasiswa hanya dapat berpikir secara terpimpin, yaitu hanya sanggup menguasai/menghafal bahan-bahan kuliah dan diktat tanpa ada kemampuan berpikir secara kritis yang mutlak diperlukan dalam menuntut ilmu.” Satu-satunya penyebabnya, karena para guru/dosennya sendiri tidak mengajari yang demikian. Terpaku oleh aturan juklak dan juknis yang memang tidak mengatur hal demikian—konon aturan ini dijadikan pijakan utama dalam mengajar.

Tak ubahnya tim sepak bola, agar diperoleh pemain-pemain yang terampil dalam bermain bola, maka pelatihan dan pendidikan persepakbolaan harus dimulai sejak dini. Dirikan sekolah sepak bola khusus untuk anak-anak. Datangkan para guru (pelatih) yang benar-benar mumpuni (profesional). Jangan asal comot dan asal pandai komentar. Demikian halnya keterampilan berpikir. Agar diperoleh peserta didik yang terampil berpikir—sebagai generasi penerus bangsa yang kondisinya sangat memprihatinkan ini—, maka terapkan pendidikan terampil berpikir. Ajari mereka bagaimana berpikir yang baik. Kalau perlu—sebagaimana pengalaman de Bono—terapkan pelajaran baru. “Pelajaran Berpikir” namanya. Walau nampaknya asing, ia telah terbukti sangat ampuh digunakan oleh negara-negara maju.

Salah satu kecakapan hidup ( life skill ) yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah keterampilan berpikir (Depdiknas, 2003). Kemampuan seseorang untuk dapat berhasil dalam kehidupannya antara lain ditentukan oleh keterampilan berpikirnya, terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Di samping pengembangan fitrah bertuhan, pembentukan fitra moral dan budipekerti, inkuiri dan berpikir kritis disarankan sebagai tujuan utama pendidikan sains dan merupakan dua hal yang bersifat sangat berkaitan satu sama lain (Ennis, 1985; Garrison & Archer, 2004).

Johnson (2000), mengemukakan keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir kritis dan berpikir kreatif. Kedua jenis berpikir ini disebut juga sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi (Liliasari, 2002). Berpikir kritis merupakan proses mental yang terorganisasi dengan baik dan berperan dalam proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan menginterpretasi data dalam kegiatan inkuiri ilmiah. Sedangkan berpikir kreatif adalah proses berpikir yang menghasilkan gagasan asli atau orisinal, konstruktif, dan menekankan pada aspek intuitif dan rasional (Johnson, 2000). Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan dari apa yang digagas oleh John Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah dan merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan.

Robert Ennis (1985) dalam Morgan (1999) memberikan definisi berpikir kritis adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan. Berdasarkan definisi tersebut, maka kemampuan berpikir kritis menurut Ennis terdiri atas duabelas komponen yaitu: (1) merumuskan masalah, (2) menganalisis argumen, (3) menanyakan dan menjawab pertanyaan, (4) menilai kredibilitas sumber informasi, (5) melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi, (6) membuat deduksi dan menilai deduksi, (7) membuat induksi dan menilai induksi, (8) mengevaluasi, (9) mendefinisikan dan menilai definisi, (10) mengidentifikasi asumsi, (11) memutuskan dan melaksanakan, (12) berinteraksi dengan orang lain. Dressel & Mayhew (1954) dalam Morgan (1999) mengutip kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan oleh Komite Berpikir Kritis Antar-Universitas ( Intercollege Committee on Critical Thinking ) yang terdiri atas: (1) kemampuan mendefinisikan masalah, (2) kemampuan menyeleksi informasi untuk pemecahan masalah, (3) kemampuan mengenali asumsi-asumsi, (4) kemampuan merumuskan hipotesis, dan (5) kemampuan menarik kesimpulan.

Orlich, et al (1998) menyatakan bahwa kemampuan yang berasosiasi dengan berpikir kritis yang efektif meliputi: (1) mengobservasi; (2) mengidentifikasi pola, hubungan, hubungan sebab-akibat, asumsi-kesalahan alasan, kesalahan logika dan bias; (3) membangun kriteria dan mengklasisfikasi; (4) membandingkan dan membedakan, (5) menginterpretasikan; (6) meringkas; (7) menganalisis, mensintesis dan menggeneralisasi; mengemukakan hipotesis; (8) membedakan data yang relevan dengan yang tidak relevan, data yang dapat diverifikasi dan yang tidak, membedakan masalah dengan pernyataan yang tidak relevan. Sehubungan dengan itu, Zeidler, et al (1992) menyatakan ciri-ciri orang yang mampu berpikir kritis adalah: (a) memiliki perangkat pikiran tertentu yang dipergunakan untuk mendekati gagasannya, dan memiliki motivasi kuat untuk mencari dan memecahkan masalah, (b) bersikap skeptis yaitu tidak mudah menerima ide atau gagasan kecuali dia sudah dapat membuktikan kebenarannya. Berdasarkan uraian seperti di atas, maka kemampuan berpikir kritis yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah proses mental yang mencakup kemampuan merumuskan masalah, memberikan dan menganalisis argumen, melakukan observasi, menyusun hipotesis, melakukan deduksi dan induksi, mengevaluasi, dan mengambil keputusan serta melaksanakan tindakan.

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang (Galbreath,1999; Liliasari, 2002; Depdiknas, 2003; Trilling & Hood, 1999; Kubow, 2000) dan merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia (Penner 1995 dalam Liliasari, 2000). Oleh karena itu, pengembangan keterampilan berpikir kritis menjadi sangat penting bagi siswa dalam pembelajaran matematika. Keterampilan berpikir kritis menggunakan dasar berpikir menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap interpretasi untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, kemampuan memahami asumsi, memformulasi masalah, melakukan deduksi dan induksi serta mengambil keputusan yang tepat. Keterampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemikir yang kritis karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki hubungan dengan pola pengelolaan diri ( self organization ) yang ada pada setiap mahluk di alam termasuk manusia sendiri (Liliasari, 2001; Johnson, 2000).

Morgan (1999) mengutip pendapat Marzano (1992) memberikan kerangka tentang pentingnya pembelajaran berpikir yaitu: (1) berpikir diperlukan untuk mengembangkan sikap dan persepsi yang mendukung terciptanya kondisi kelas yang positif, (2) berpikir perlu untuk memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan, (3) perlu untuk memperluas wawasan pengetahuan, (4) perlu untuk mengaktualisasikan kebermaknaan pengetahuan, (5) perlu untuk mengembangkan perilaku berpikir yang menguntungkan. Berpikir kritis merupakan suatu kompetensi yang harus dilatihkan pada peserta didik, karena kemampuan ini sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang (Schafersman, 1999 dalam Arnyana, 2004). Guru perlu membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Inkuiri yang dipadukan dengan strategi kooperatif merupakan salah satu cara untuk itu. Dengan kegiatan inkuiri, siswa dapat belajar secara aktif untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis dan menginterpretasikan data, serta mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Perpaduan kegiatan inkuiri dengan strategi kooperatif dapat melatih siswa untuk bekerjasama dengan teman sebayanya.

F. Inovasi Pembelajaran Sains Berbasis IT ( information of technology)

Penggunaan teknologi informasi untuk kegiatan pembelajaran sudah dirasa sebagai keharusan. Karena luasnya aspek implementasi teknologi informasi, perlu dibahas bersama untuk menentukan prioritas urutan aspek-aspek yang perlu didahulukan. Per­soalannya adalah bahwa implementasi teknologi informasi tidak semata-mata masalah teknologi tapi dalam prakteknya lebih banyak berurusan dengan pelaku­pelaku pembelajaran itu sendiri.Pengembangan TI untuk pembelajaran sains melibatkan 3 unsur:

1. penyediaan sarana fisik berupa peralatan TI dan jaringannya,

2. persiapan untuk perubahan proses pembelajaran, dan

3. pengembangan materi presentasi dalam proses pembelajaran itu sendiri.

Ketiga unsur ini punya hubungan saling ketergantungan yang erat. Materi presentasi digital memerlukan sarana proyektor LCD, sedangkan pengembangan prasarana TI memerlukan perencanaan penggunaan yang matang mengingat harga yang relatif ma­hal serta umur ekonomi yang relatif pendek. Dalam pengembangan teknologi informasi untuk pembelajaran baik dalam konteks Fakultas, Sekolah, lab maupun pribadi Infrastruktur teknologi informasi mutlak diperlukan untuk mengembangkan sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi. Ada dua bagian yang perlu diperhatikan:

1. Komputer dan Presentasi Kelas/Lab

2. aringan komunikasi data

3. Fasilitas Akses Publik

Komputer dan alat presentasi diperlukan untuk pengembangan bahan ajar dan menayangkannya di forum pembelajaran, jaringan komunikasi data diperlukan untuk penyebarluasan informas sedangkan fasilitas akses publik perlu diadakan agar target pembelajaran dapat mengikuti proses secara lebih leluasa.

Komputer menawarkan fasilitas multimedia dalam satu sistem untuk penyajian ma­teri pembelajaran. Layanan media-media presentasi lama dalam bentuk papantulis, tape recorder, OHP, Slide Projector, Movie Projector, sampai ke alat-alat peraga praktikum dapat diberikan dengan kualitas yang sama atau setidaknya mendekati de­ngan menggunakan sebuah komputer. Keuntungan lebih dari komputer adalah me­nyatunya media presentasi dengan alat pengembangan presentasi itu sendiri.

Dari sisi harga, kita tidak bisa berasumsi bahwa pengadaan komputer multimedia lengkap dengan segala perangkat lunak yang dieprlukan akan menjadi lebih murah dibanding membeli berbagai macam alat presentasi tersebut di atas. Dalam lingku­ngan dimana penggandaan perangkat lunak tanpa ijin tidak dipermasalahkan, penggu­naan komputer dianggap murah. Bila kita mengikuti aturan hukum, ijin penggunaan perangkat lunak untuk pengembangan animasi peragaan materi pembelajaran bisa mencapai ribuan dolar. Permasalahan hakcipta, pengadaan lisensi sampai ke perburu­an perangkat lunak alternatif merupakan topik panjang yang memerlukan sesi tersendiri untuk membahasnya.

Keuntungan lebih jauh dari keberadaan materi pembelajaran dalam bentuk digital adalah kemudahan kita untuk menyebarluaskan materi tersebut. Meskipun secara umum dirasakan sebagai keuntungan, namun bagi sementara orang kemudahan ini merupakan kerugian karena bisa jadi pihak yang dengan mudah bisa mendapatkan materi pembelajaran dari seseorang tidak perlu lagi mengundang orang tersebut un­tuk data mengajar di tempat lain.

Persoalan utama dalam penerapan teknologi informasi di lingkungan sekolah sekarang ini tidak lagi ada pada ketersediaan fasilitas tetapi ada pada cara sosialisasi untuk membangun tradisi komunikasi elektronis. Di Amerika Utara, tradisi komu­nikasi/publikasi elektronis mulai terbentuk sejak jaringan komputer dibangun dengan bandwidth 300 bps (bit per second). Kendala sistem software untuk publikasi/komunikasi elektronis sudah bisa dikatakan menghilang dengan sendirinya dengan munculnya beberapa software bantu untuk editing homepage. Disamping software bentuk tersendiri, saat ini sudah mulai pop­uler dimasyarakatkan sistem publikasi data informasi online dalam arti baik pengisi maupun pembaca informasi menggunakan interfis yang sama yakni web browser.

Perangkat lunak pendukung proses pembelajaran yang paling banyak digunakan adalah editor teks kata dan presentasi. Hampir semua pengajar telah menggunakan kom­puter untuk mengetikkan bahan-bahan pelajaran dan soal-soal ujian. Pada perkemban­gan selanjutnya, bahan presentasi diedit dengan program presentasi sepert Power-Point dan sebagainya.

Kendala utama dalam penggunaan bahan presentasi digital adalah ketersediaan proyektor di ruang-ruang kelas. Saat ini sekolah/kampus tidak tersedia kelas yang sudah dilengkapi dengan fasilitas proyektor LCD, karena itu sering bahan ajar yang disunt­ing dengan PowerPoint harus dicetak ke plastik transparansi agar bisa digunakan di kelas-kelas yang hanya menyediakan OHP.

Beberapa pengajar yang baru pulang dari sekolah di luar negeri mulai mencoba untuk menerapkan hal-hal baru dalam penggunaan teknologi informasi untuk penyelenggaraan pembelajaran/perkuliahannya. Perkembangan setelah penayangan presentasi belajar/kuliah digital adalah penggunaan Internet/Intranet untuk menyampaikan materi pembelajaran dan sekaligus berkomunikasi dengan siswa/mahasiswa.

Bentuk komunikasi yang paling awal adalah komunikasi satu arah dengan penayan­gan bahan kuliah di suatu homepage. Mahasiswa dapat membaca atau mendownload bahan kuliah tersebut melalui fasilitas warung internet atau terminal-terminal yang disediakan universitas/fakultas. Bentuk komunikasi lebih lanjut dapat dilakukan den­gan electronic-mail (imil). Dengan imil, mahasiswa dapat mengirimkan hasil peker­jaannya melalui jaringan komputer. Guru/dosen dapat melakukan koreksi, penilaian ter­hadap pekerjaan siswa dari kantor secara langsung.

Fasilitas teknologi informasi pembelajaran terpadu dapat diberikan dalam bentuk sis­tem pembelajaran on-line. Nama sistem ini bermacam-macam bergantung pada tekanan penggunaannya pada aspek:

1.Administrasi Manajemen Pembelajaran

2.Penyampaian materi pembelajaran

3.Komunikasi dua arah antara dosen dan mahasiswa

4. Kolaborasi, menyelesaikan masalah bersama melalui jaringan

5. Evaluasi, kuis, bahkan sampai ujian.

Beberapa perguruan tinggi telah menggunaan sistem-sistem semacam ini untuk mana­jemen pembelajarannya. Banyak sistem yang ditawarkan secara komersial seperti BlackBoard dan WebCT. Ada pula yang dikembangkan dengan dana publik sehingga penggunaannya tidak lagi dikenai pembiayaan tersendiri.

Ada dua model pengembangan materi pembelajaran on-line. Pada model pertama, dosen membangun materi dengan komputernya sendiri dengan bagian-bagian materi secara utuh. Setiap bagian bisa dibaca dan dipelajari secara terpisah baik dengan mendownloadnya dari Internet atau dibagikan dalam rekaman fisik dengan CDROM. Pada model kedua, dosen membangun materi pembelajaran dengan fasiltias pengem­bangan materi secara on-line. Materi perkuliahan dimasukkan ke sistem sepotong demi sepotong yang terangkai secara utuh di sistem. Siswa hanya bisa mengikuti perkuliahan secara utuh melalui sistem yang sama secara on-line. Dengan model ini, distribusi off-line hanya bisa dilakukan setelah pengembangan materi perkuliahan se­lesai seluruhnya atau bab per bab. Sistem pembelajaran on-line yang paling rumit adalah bagian untuk penyelenggaraan ujian. Pada umumnya ujian masih harus dilakukan secara tradisionil mengingat belum ditemukannya cara pelaksanaan ujian itu sendiri. Penggunaan komputer dalam jaringan untuk ujian selain bisa dirasakan praktis oleh pihak dosen namun akan mem­beri permasalahan tersendiri mengingat fasilitas tersebut memberi kemudahan pada siswa untuk berkomunikasi satu sama lain. Suatu hal yang tidak dikehendaki pada acara ujian.

Pengembangan teknologi informasi untuk pembelajaran bersifat mahal dan perlu di­rencanakan secara matang. Di satu sisi, para guru/dosen akan dapat mengembangkan sis­tem pembelaj aran yang efektif berbasis teknologi informasi apabila instansi yang bersangkutan menyediakan infrastruktur yang cukup. Di sisi lain, tanpa “jaminan” antusiasme para dosen untuk memanfaatkan teknologi informasi, para pengambil keputusan tidak akan dengan mudah mengijinkan pelaksanaan proyek pengembangan infrastuktur teknologi informasi


G. Inovasi Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal

Etnosains ini bertujuan menggali sains asli yang ada di masyarakat tradisional dan kemudian mengkonstruksinya untuk pengembangan kurikulum sains berbasis budaya lokal di sekolah.. Data sains asli dikumpulkan dengan teknik observasi, partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, selanjutnya dilakukan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan :

1) Masyarakat tradisional secara selektif menerima budaya-budaya yang masuk tanpa menghilangkan budaya asli yang diwariskan oleh para leluhur mereka.

2) Sains asli yang hidup dan berkembang di masyarakat masih dalam bentuk pengetahuan pengalaman konkret sebagai hasil interaksi antara lingkungan alam dan sosial budayanya.

3) Bila dikaitkan dengan sains Barat, sains asli dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu sains asli yang dapat dijelaskan sains Barat dan sains asli yang belum dapat dijelaskan sains Barat.

Implikasi bagi pendidikan sains di sekolah yaitu :

1) sains asli (budaya lokal) dapat diakomodasi sebagai ilustrasi dalam pembelajaran sains di sekolah, mengingat sains asli ini merupakan bagian dari kehidupan mereka.

2) Pengajaran sains di sekolah dapat dipandang sebagai transmisi budaya lokal. Direkomendasikan kepada Dinas Pendidikan Nasional yang ada di daerah untuk membentuk tim rekayasa kurikulum sains dengan melibatkan ahli kurikulum, ahli mata pelajaran sains dari perguruan tinggi, guru sains, dan tokoh-tokoh masyarakat yang berkompeten dalam bidang budaya lokal.

H. Inovasi Pembelajaran Sains Berbasis SALINGTEMAS ( Sain, Lingkungan, teknologi dan Masyarakat)

Pendekatan sains, teknologi dan masyarakat (STM) atau biasa juga di Indonesia disebut dengan Salingtemas (sains-lingkungan-teknologi-masyarakat) mulai berkembang pada dasarwarsa 70-an, sebagai reaksi dari pola pengajaran sains post-Sputnik. Titik penekanan dari pola ini adalah mengembangkan hubungan antara pengetahuan ilmiah siswa dengan pengalaman keseharian mereka. Paling tidak terdapat dua konteks dalam pedekatan Salingtemas ini. Konteks pertama adalah interaksi sehari-hari siswa dengan dunia sekitarnya. Suatu pengetahuan ilmiah yang luas akan memperkaya kehidupan individu, juga membuat berbagai pengalaman untuk diinterpretasi pada tahap yang berbeda. Pengembaraan di kebun atau hutan misalnya, akan memperoleh suatu pengalaman yang lain bila si pengembara/siswa tersebut memiliki pengetahuan biologi dan geologi. Berhubungan dengan hal ini juga adalah ketika pengetahuan ilmiah digunakan dalam menyelesaikan masalah praktis yang bisa muncul kapan saja di sekitar rumah tangga, seperti memperbaiki mainan atau peralatan listrik yang rusak. Namun, hal ini sudah lama disadari bahwa jika guru ingin siswanya mampu melakukan aplikasi pengetahuan ilmiah, maka latihan yang diberikan untuk hal itu harus lebih banyak. Untuk kebanyakan siswa, hal ini tidak datang secara alami, dan pengetahuan serta ketrampilan yang dipelajari di kelas sains biasanya disimpan dalam “kotak ingatan” yang berbeda dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Konteks yang kedua melibatkan cakupan yang lebih luas antara sains melalui teknologi terhadap masyarakat, dengan tujuan ini pengajaran sains bergerak keluar dari sekedar pengajaran sains di kelas. Berbagai materi mulai dari dampak pencemaran udara terhadap lingkungan seperti efek rumah kaca yang berlanjut ke hujan asam, pemanasan global dan perubahan iklim dipelajari di kelas sains. Ruang lingkup Salingtemas lebih luas dari sekedar komponen sains dari hal tersebut, namun ke segala hal detil yang mempengaruhi kelangsungan hidup umat manusia secara keseluruhan. Pada pola ini pemahaman sains harus benar-benar dipahami dan ini melibatkan pengajaran sains pada tahapan yang lebih tinggi. Sehingga hal ini akan memberikan tantangan yang berarti bagi guru sains di kelas untuk menyesuaikan diri terhadap pembahasan permasalahan yang diulas dengan taraf pengetahuan siswa. Pembahasan berbagai permasalahan Salingtemas akan membawa kepada pemahaman hal apa yang perlu dilakukan untuk menangani atau mencegah hal tersebut terjadi serta faktor apa saja yang terlibat atau tidak terhadap masalah tersebut membawa berbagai pengetahuan dan kepercayaan di luar pengajaran sains, dan hal nilah yang harusnya diintregrasikan dalam pengetahuan ilmiah. Para siswa diharapkan untuk dapat mulai melihat bahwa walaupun pengetahuan ilmiah berada di belakang permasalahan tersebut namun hal itu tidaklah cukup, diharapkan siswa melakukan tindakan bijak sebagai anggota masyarakat dalam memelihara kelestarian alam. Sehingga siswa belajar menyadari beberapa hal keterbatasan dalam sains yang merupakan bekal berarti bagi kehidupannya.

Pendekatan sikap dan nilai ilmiah dapat dibedakan dapat dilakukan dalam dua penekanan yang berbeda. Yang pertama melibatkan usaha untuk mengembangkan berbagai sikap tersebut yang dilihat sebagai sifat-sifat ilmuwan yang bila dikembangkan akan membantu siswa menyelesaikan persoalan sejenis seperti halnya ilmuwan menyelesaikannya. Beberapa sikap tersebut diantaranya adalah :

· mengetahui butuhnya bukti sebelum membuat klaim pengetahuan

· mengetahui butuhnya berhati-hati ketika melakukan interpretasi pada hasil percobaan/pengamatan

· kemauan untuk mempertimbangkan interpretasi lain yang juga masuk akal

· kemauan untuk melakukan aktivitas percobaan secara hati-hati

· kemauan untuk mengecek bukti dan interpretasinya

· mengakui keterbatasan penyelidikan secara ilmiah

Penekanan yang kedua adalah mengembangkan sikap-sikap khusus terhadap alam sekitar, mata pelajaran selain sains ataupun dasar untuk karir masa depan seperti halnya sikap terhadap sains. Berbagai sikap tersebut seperti:

· rasa ingin tahu tentang alam fisik dan biologis dan bagaimana hal itu bekerja

· kesadaran bahwa sains dapat menyumbangkan hal untuk mengatasi masalah individu ataupun global

· suatu antusiasme terhadap pengetahuan ilmiah dan metodanya

· suatu pengakuan bahwa sains adalah aktivitas manusia bukan sesuatu yang mekanis

· suatu pengakuan pentingnya pemahaman ilmiah dalam dunia yang modern

· suatu kenyataan bahwa pengetahuan ilmiah bisa digunakan untuk maksud baik maupun jahat

· suatu pemahaman hubungan antara sains dan bentuk aktivitas manusia lainnya

· suatu pengakuan bahwa pengetahuan dan pemahaman sains berbeda dengan yang dilakukan sehari-hari

Berbagai sikap di atas secara jelas berhubungan dengan sains, dan akan berpotensi terus berkembang khususnya ketika siswa terlibat dalam pelajaran sains di sekolah. Namun, terdapat juga sikap-sikap positif lainnya yang mana seorang guru sains dapat juga meneguhkan dan memperkuatnya seperti rasa tanggung jawab, kesediaan untuk bekerja sama, toleransi, rasa percaya diri, menghargai orang lain, kebebasan, dapat dipercaya dan kejujuran intelektual.

Pengembangan sikap-sikap ini biasanya merupakan konsekwensi tidak langsung dari seluruh pengalaman di sekolah maupun di dunia luar. Tidak seorang guru pun atau sekumpulan kegiatan yang akan bertanggung jawab terhadap sikap siswa terhadap sains. Penelitian dalam pendidikan misalnya, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh hidden curriculum dibanding isi materi kurikulum terhadap cara pandang siswa terhadap dirinya, guru, sekolah maupun proses pendidikan. Namun, walaupun perubahan sikap adalah hal yang lambat dibanding pertambahan pengetahuan dan pengurukannya juga sulit dilakukan, hal ni tidak menjadikan bahwa hal itu tidak perlu dilakukan.

Pendekatan sifat alamiah dari sains adalah pendekatan yang membawa berbagai implikasi yang terkesan rumit baik bagi siswa maupun guru. Siswa yang belajar di kelas yang paling tidak mendapat tiga mata pelajaran sains (biologi, fisika dan kimia) akan berhadapan dengan beragam guru sains yang juga beragam sikap dan pandangannya tentang sains. Hal ini berpotensi untuk menimbulkan kebingungan siswa, sudut pandang guru yang mana yang memang lebih tepat? Cara yang lebih baik adalah dengan mengakui adanya keberagaman pandangan tentang sains dan kesulitannya mencari suatu konsensus, untuk kemudian mendiskusikan kekuatan dan kelemahan berbagai pandangan tersebut. Salah satu cara yang telah diterapkan adalah dengan pendekatan sejarah dan filsafat sains (History and Philosophy of Science) yaitu dimana siswa terlibat dalam mempelajari dan menganalisa sebab-sebab historis dimana prestasi sains berlangsung

Satu hal yang akan menjadi sulit pada pendekatan ini adalah ketidaksetujuan diantara para ilmuwan. Berbagai penemuan baru dan aplikasinya akan diperdebatkan antara ilmuwan, misalnya tentang system klasifikasi mahluk hidup, usulan bagi suatu tindakan terhadap berbagai masalah medis atau lingkungan yang bisa melibatkan kepentingan seluruh umat manusia di bumi. Pandangan sains secara tradisional sedikit menempatkan pertentangan ini lebih-lebih untuk siswa sekolah, namun pandangan lebih modern hal ini menjadi sesuatu yang tak terpisahkan. Sehingga hal-hal yang diperdebatkan baik hal tersebut masalah ilmiah atau system nilai adalah hal yang berguna untuk didiskusikan.

Berbagai focus tersebut menggambarkan pentingnya sisi manusiawi dari sains. Biasanya siswa melihat sains sebagai suatu yang mekanis: para ilmuwan mengikuti sejumlah metoda untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Profil ilmuwan pun biasa digambarkan sebagai orang (biasanya laki-laki) yang berjas putih, serius dan melakukan tugas yang menjemukan. Kenyataannya, hal ini bisa menjadikan banyak siswa justru menghindari pelajaran sains atau menghindari profesi masa depan karir sebagai ilmuwan. Studi kasus sejarah juga dapat digunakan berbagai hal yang berkaitan.

Pendekatan kecakapan individu dan sosial adalah mengembangkan potensi siswa yang juga penting. Sains bukanlah berada dalam suatu posisi yang unik yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan kecapakan ini, namun banyak pihak berpendapat bahwa semua guru harus mengembangkan kemampuan individu siswa seperti ketekunan, maupun kecakapan sosial seperti kerja sama. Jika anda sebagai guru mempercayainya, maka hal tersebut akan terlihat dari metoda mengajar yang anda dipraktekkan.

I. Inovasi Pembelajaran Sains Berbasis Agama atau Nilai-nilai

Salah satu sumbangan terbesar Islam bagi dunia modern sekarang, adalah mewariskan sejumlah teori pengetahuan tentang alam semesta dan cara-cara menerapkan pengetahuan tentangnya. Dalam banyak hal, hubungan antara ilmu pengetahuan (sains) dengan cara-cara menerapkannya (teknologi) telah banyak dicontohkan dan diujicobakan oleh sejumlah sarjana muslim pada sekitar abad ke-9 – 13 M.. Mereka bukan hanya ditopang oleh pengetahuan dan pengalamannya, tapi juga anugrah yang melimpah dengan mendapat fasilitas dari pemerintahan, terutama pada masa-masa kejayaan Abbasiyah di Baghdad. Sebelum melahirkan teknologi, pengembangan sains lebih dahulu mereka dapatkan, bukan hanya dari hasil-hasil temuan mereka sendiri, tapi juga mereka dapatkan dari sejumlah sumber yang berasal bukan hanya dari dalam doktrin Islam saja. Kebanyakan pengetahuan tentang hukum-hukum alam, ilmu ukur dan matematika, fisika dan geometrika sampai ilmu gaya dan berat mengenai bermacam-macam benda, mereka peroleh dari warisan Yunani,, Persia, India dan Mesir. Pengetahuan sains ini mereka kuasai terlebih dahulu sebelum mengembangkan teknologi. Karena ilmu-ilmu tersebut adalah sebagai dasar-dasar bagi pengembangan teknologi berikutnya. Perbedaan yang mendasar antara sains dan teknologi adalah, sains lebih banyak berbicara tentang teori dan pengetahuan mengenai macam-macam objek baik yang bersifat mendasar maupun universal, objektif dan sistematik. Sedangkan teknologi lebih bersifat praktis, yakni ilmu tentang cara-cara menerapkan pengetahuan sains untuk memanfaatkan alam semesta bagi kesajahteraan dan kemudahan serta kenyamanan umat manusia. Keduanya sama-sama bersifat netral bagi kehidupan umat manusia, baik dalam hubungannya sekedar pengetahuan, maupun sebagai alat bagi kemudahan mereka hidup.
Beberapa contoh sains dan teknologi Islam, yang berkait dengan warisan Hellenisme Yunani adalah filsafat, astronomi, fisika, geometrika, kimia, pertambangan dan metalurgi, matematika, kedokteran, pertanian, dan sebagainya. Dalam bidang matematika kontribusi Islam telah mengenalkan system bilangan India, dengan mengenalkan bilangan baru nol (0) dengan sebuah titik (.). Hal ini telah mempermudah bagi proses penghitungan berikutnya, sekalipun dengan jumlah klipatan yang sangat panjang. Penulisan bilangan pertama adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizm (w.875 M), selanjutnya Abul Hasan al-Uqlidisy (w.953), Umar Khayyam (w.1131). Sedangkan dalam bidang astronomi pengaruh Babilonia dan India sangat terasa, apalagi sejak diterjemahkanya risalah India, Siddhanta ilmu perbintangan para raja sejak tahun 711 M di Baghdad. Abu Ma’syar al-Falaky al-Balkhy merupakan diantara tokoh yang paling terkenal dalam membuat ramalan-ramalan perbintangan, karyanya, Kitab al-Uluf.
Bidang fisika yang paling menonjol adalah mengenai teori optik yang dikembangkan oleh Ibn al-Haitsam dalam karyanya “Kitab al-Manadzir”, al-Khaziny (w.1040 M) juga mengurai tentang gaya gravitasi spesifik dlam karyanya “Kitab Mizan al-Hikmah”. Pengobatan dalam Islam mereka dapatkan banyak dari Persia atau Mesopotamia, India dan lainnya. Muhammad Ibn Zakariya al-Razy (w.925 M) seorang dokter dan penulis kitab pengobatan yang cukup terkenal, juga Ibn Sina dengan Qonun fi al-Thib-nya. Keduanya sama-sama telah membuktikan penguasaannya dalam hal teknologi farmasi dan kedokteran. Dan hampir menjadi sebuah kebiasaan bahwa para ahli ini biasa merangkap dalam profesinya, selain sebagai filosof, astronom juga ahli dalam ahli dalam farmasi dan kedokteran.
Salah satu contoh pengembangan teknologi lainnya dalam Islam adalah ditemukannya penerapan teori-teori fisika dalam menentukan arah waktu dengan membuat jam melalui mekanisme gerak (escapement) air raksa, yang dibuat oleh al-Muradi pada abad ke 11 M. Termasuk Ridwan dan al-Jazary juga membuat jam dari gerakan air yang disambungkan dalam gir-gir bersegmen dan episiklus. Kincir air untuk mengambil air dari saluran yang lebih rendah untuk ditaikkan ke lokasi yang lebih atas, juga telah biasa digunakan di Murcia Spanyol, dan contohnya masih berfungsi sampai abad ke 13M.


Demikian perkembangan sains, seni dan teknologi dalam Islam yang terangkum dalam wujud kebudayaan masyarakat Islam pada zamannya.

J. Strategi-strategi Pembelajaran sains

Ada beragam stategi pengajaran dan pembelajaran yang berbasiskan paradigma konstruktivisme. Beberapa strategi pembelajaran ini sudah banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, misalnya CTL (contextual teaching learning), cooperative learning, PBL (problem based learning), Inquiry, RME (realistic mathematics education), dan lain-lain. Pada bahasan ini penulis mencoba menyajikan suatu strategi yang lain.

Sains merupakan salah satu pelajaran yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan manusia. Mata pelajaran Sains bagi sebagian besar siswa masih dianggap sebagai pelajaran yang relatif sulit. Sistem pembelajaran sains yang cenderung monoton dan tidak bervariasi, situasi pembelajaran yang cenderung membuat siswa tertekan, dan kurangnya upaya dari guru untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran sains menjadi alasan lain yang dapat memperkuat anggapan siswa tehadap sulitnya belajar sains. Tampaknya kita tidak dapat memungkiri bahwa pelajaran sains merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena sains adalah pengetahuan tentang fakta dan hukum-hukum yang didasarkan atas pengamatan dan disusun dalam suatu sistem yang teratur, di mana dalam proses pengamatan tersebut kita akan banyak berinteraksi dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Ironisnya, mata pelajaran MIPA dewasa ini masih merupakan mata pelajaran yang tidak disukai atau bahkan sangat dibenci oleh siswa (Dorojatun, 2001). Semiawan (Ibrohim dan Hariadi, 2002: 359) menegaskan bahwa selain ditandai dengan rerata perolehan NEM yang relatif rendah, kekurangberhasilan pendidikan sains di sekolah juga ditandai oleh kemampuan berpikir anak didik yang rendah dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari atau siswa kurang mampu menerapkan apa yang telah dipelajari terhadap situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal seperti ini tentu saja menjadi masalah yang perlu dibenahi.

Ruseffendi (1991: 19) mengemukakan bahwa sepuluh faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar antara lain sebagai berikut: (1) kecerdasan, (2) kesiapan belajar, (3) bakat, (4) kemauan belajar, (5) minat, (6) cara penyajian materi perkuliahan/pembelajaran, (7) pribadi dan sikap pengajar, (8) suasana pengajaran, (9) kompetensi pengajar, (10) kondisi masyarakat luas. Kesepuluh poin di atas menjelaskan bahwa cara penyajian materi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjadi penentu keberhasilan siswa. Apakah materi yang disajikan embuat siswa tertarik, termotivasi, kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi, dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut. Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap pelajaran sains?

Sejalan dengan pemikiran Syah (1995) bahwa kekurangan atau ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Sudah menjadi hal yang lazim, jika seorang guru dalam memberi materi pembelajaran tanpa banyak basa-basi. Sepanjang waktu yang digunakan dalam kelas, semuanya dipenuhi dengan pemberian materi dan latihan saja. Sejak jam pelajaran dimulai, siswa diharuskan untuk mengkonsumsi materi pembelajaran sains tanpa adanya kesempatan mengelak. Tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain yang sama penting, atau bahkan jauh lebih penting daripada konten sains itu sendiri. Bisa jadi, inilah yang meneyebabkan munculnya persepsi bahwa sains itu 'menyeramkan'. Terlebih lagi jika penyampaian materinya sangat kaku dan membosankan.

Masalah di atas itu perlu kiranya dicarikan solusinya. Bagaimana seorang pengajar mampu menghilangkan citra buruk sains di benak siswanya, dan tentu akan lebih baik jika akhirnya nanti, perasaan cinta dan butuh terhadap pembelajaran sains benar-benar telah tumbuh berkembang dalam jiwa setiap siswanya. Strategi pembelajaran sains yang sesuai diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Salah satu alternatif satrategi penyajian materi pembelajaran adalah dengan menggunakan metafora. Baik di awal, pertengahan, ataupun di akhir pembelajaran, dengan tujuan untuk mendongkrak minat dan motivasi siswa sebagai pembelajar. Metafora yang dimaksud adalah memaparkan serita tentang hakikat kesuksesan, perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan yang notabene akan mereka hadapi kelak, simulasi, ataupun kisah-kisah berbagai orang sukses dalam hidupnya, serta legenda-legenda lainnya. Diharapkan nantinya, setelah pembelajaran selesai, setiap siswa sebagai pembelajar memiliki wawasan lebih tentang kehidupan nyata yang akan mereka songsong, sehingga motivasi mereka untuk lebih sungguh-sunguh belajar dapat ditingkatkan. Penggunaan metafora dalam pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu kemampuan menciptakan minat dan meningkatkan motivasi belajar para siswa. Hal ini didukung oleh pendapat beberapa ahli yang telah lama berkecimpung dalam penelitian tentang kinerja otak. Penyajian materi dengan metafora dalam pembelajaran memiliki peranan penting untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, karena penyajian metafora membawa mahasiswa ke dalam suasana ynag penuh kegembiraan dan keharuan, sehingga menciptakan pemaknaan dalam proses belajar selanjutnya (DePorter, Reardon, dan Nourie, 2000: 14). Seperti pernyataan Caine dan Caine (1997, dalam DePorter, dkk, 2000: 21), "Perasaan dan sikap siswa akan berpengaruh sangat kuat terhadap proses belajarnya". Hal ini senada dengan ungkapan Goleman (1995: 28) seperti yang dikutip oleh DePorter dkk (2000: 22), "Penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan". Sedangkan, seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya (Howard Gardner, 1995, dalam DePorter, dkk, 2000: 23). Sebenarnya sangat banyak metafora yang dapat digunakan atau disampaikan dalam setiap pembelajaran. Misalnya: (1) bercerita dengan menggunakan perumpamaan untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya pembelajaran tersebut, (2) bercerita dengan perumpamaan, bahwa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan pada hakikatnya adalah diri sendiri, (3) memberikan penjelasan bagaimana kiat meraih sukses dalam pembelajaran dan kehidupan, (4) menyajikan paparan bahwa orang belajar harus siap keluar dari zona nyaman, (5) mendiskusikan mengapa hingga saat ini kualitas pendidikan Indonesia masih terpuruk, (6) mengisahkan tentang beberapa tokoh terkenal seperti Albert Einstein, Stephen Hawking, Syaikh Ahmad Yasin, Richard Rufallo, David Beckham, Michael Jordan, Thomas Alva Edison, Jalaluddin Rumy, Umar Khayyam, Iwan Fals, dan sebagainya, atau (7) memberikan beberapa nasihat dan tips-tips untuk meraih keberhasilan.

2. Alternatif kedua strategi pembelajaran 7S2Q (Seven Steps to Quality) adalah strategi yang didasarkan pada modifikasi dan pengayaan dari dua teori konstruktivisme yaitu Ausable dan Piaget. Strategi ini akan menjadi acuan bagi sekolah pilot project Baznas Dompet Dhuafa. Strategi 7S2Q terdiri dari tujuh tahapan pembelajaran yaitu:

a. Selalu awali dengan basmallah dan akhiri dengan hamdalah

Selalu mengawali setiap pekerjaan dengan mengucapkan basmalah bagi setiap muslim adalah pekerjaan yang utama, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)”

Pada kata-kata “bismillahirohman irohim” terkandung ketauhidan, cinta kasih secara universal pada semua makhluk tanpa membedakan ras dan agama, serta kasih sayang pada sesama muslim beriman. Kata, “bismillah” menurut sebagian ulama salaf merupakan inti kandungan ajaran Islam, karena di situ ada unsur keyakinan terhadap Allah yang telah memberikan kekuatan sehingga seseorang dapat melakukan aktivitas yang diinginkan, pangakuan akan ketidakberdayaan seseorang di hadapan Allah Taala. Kata rohman dan rahim adalah dua sifat Alloh yang dapat ditiru oleh manusia. Rohman adalah sifat kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya. Sementara itu kata Rahim diberikan secara khusus oleh Allah kelak nanti dialam akhirat yaitu hanya bagi mereka yang beriman.

Hamdalah adalah ucapkan setiap kali kita selesai melakukan sesuatu. Lengkapnya adalah “A!-hamdu!i!!ah rabbi! ‘a!amin” (segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam). Kata a!hamd itu sendiri terdiri dari kata “a!” dan “hamd”, yang seringkali diterjemahkan dengan pujian, yaitu pujian yang ditujukan kepada Allah. Sebuah ungkapan pujian yang hanya diserahkan dan disampaikan kepada Allah SWT. “A!hamd” (puji) baik secara aktual maupun verbal adalah bentuk dari manifestasi keparipurnaan dan suksesnya suatu tujuan, dari segala yang ada. Hamdalah merupakan pujian indah bagi yang berhak mendapatkannya. Kata a!- hamdu!i!!ah memiliki dua sisi makna. Pertama, berupa pujian kepada tuhan dalam bentuk ucapan. Kedua, pujian dalam bentuk perbuatan yang biasa kita sebut dengan syukur. Kedua sisi ini tergabung dalam ucapan a!-hamdu!i!!ah.

b. Selalu kaitkan makna

Selalu kaitkan makna, sesuai teori Ausable pembelajaran, yaitu entai!s new know!edge that re!ates to what one a!ready knows (http://www.coe.uf!.edu). Pada pembelajar umumnya, selalu kaitkan makna merupakan apersepsi. Selalu kaitkan makna menyajikan hal-hal yang sudah mereka tahu atau hal-hal dekat dengan pengalaman mereka, hal-hal yang selalu mereka lihat, dan hal-hal yang berada di sekitar mereka.

c. Selalu lakukan ekplorasi

Selalu lakukan ekplorasi, bangun pengetahuan, dan simpulkan atau tahap ke tiga, empat, dan lima adalah kegitan inti kegiatan pembelajaran. Pada tahapan ini siswa difasilitasi untuk membangun pengetahuan dengan beberapa kegiatan seperti pengamatan, percobaan/eksperimen, diskusi, dan studi literatur. Hal ini senanda dengan teori piaget bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran anak melalui sebuah proses adaptasi. Adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi (Dahar, 1996:151). Asimilasi adalah penggunaan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang ada. Akomodasi adalah proses modifikasi yang harus dilakukan untuk menanggapi masalah yang ada. Pembangunan pengetahuan tergantung pada akomodasi. Siswa akan memasuki area yang tidak dikenal untuk dapat belajar. Ia tidak hanya mempelajari apa yang telah diketahuinya, ia tidak hanya dapat mengandalkan asimilasi. Dalam pembelajaran yang tidak memberikan hal-hal baru, tidak akan terjadi pembangunan pengetahuan, Dahar (1996) mengistilahkan dengan overassimi!ation. Sedangkan pembelajaran yang tidak dimengerti siswa, siswa akan mengalami overaccomodation. Oleh karena itu perlu diupayakan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi.

d Selalu bangun pengetahuan

e. Simpulkan

f. Selalu terapkan

Selalu terapkan, merupakan aplikasi yang dapat dilakukan oleh siswa ketika selesai mempelajari suatu topik. Penerapan bisa dilakukan melalui tulisan (karangan/menulis surat/puisi), pembiasan sehari-hari, pembuatan karya, dan aksi propaganda lisan

g. Selalu pajangkan

Selalu pajangkan, merupakan tahap terakhir, siswa memajangkan karya yang dihasilkan selama mempelajari suatu topik di papan display yang tersedia di kelas. Pemasangan hasil kerja siswa pada pada papan display memberi rasa bangga pada siswa itu sendiri dan bagi siswa lain dapat belajar papan display memberi rasa bangga pada siswa itu sendiri dan bagi siswa lain dapat belajar menghargai terhadap karya orang lain. Menurut http://www.teachernet.gov.uk display juga dapat berfungsi sebagai alat pembelajaran (learning tool), selain menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepemilikan kelas (Community and belonging in the classroom

3. Alternatif ketiga adalah siklus Belajar (Learning Cycle) atau dalam penulisan ini disingkat LC adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. LC pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application) (Karplus dan Their dalam Renner et al, 1988). Pada tahap eksplorasi, pebelajar diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain. Dari kegiatan ini diharapkan timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005, Rahayu, 2005). Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya, fase pengenalan konsep. Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki pebelajar dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini pebelajar mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari. Pada fase terakhir, yakni aplikasi konsep, pebelajar diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut.. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena pebelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari. Implementasi LC dalam pembelajaran menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Efektifitas implementasi LC biasanya diukur melalui observasi proses dan pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum memuaskan, maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaannya harus lebih baik dibanding siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.
LC tiga fase saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi 5 dan 6 fase. Pada LC 5 fase, ditambahkan tahap engagement sebelum exploration dan ditambahkan pula tahap evaluation pada bagian akhir siklus. Pada model ini, tahap concept introduction dan concept application masing-masing diistilahkan menjadi explaination dan elaboration. Karena itu LC 5 fase sering dijuluki LC 5E (Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation) (Lorsbach, 2002). Pada LC 6 fase, ditambahkan tahap identifikasi tujuan pembelajaran pada awal kegiatan (Johnston dalam Iskandar, 2005). Tahap engagement bertujuan mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi. Pada fase exploration, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur. Pada fase explanation, guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari. Pada fase elaboration (extention), siswa menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving. Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi pebelajar melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong pebelajar melakukan investigasi lebih lanjut. Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Berdasarkan uraian di atas, LC dapat dimplementasikan dalam pembelajaran bidang-bidang sain maupun sosial.
LC patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995). Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah. Karplus dan Their (dalam Renner et al, 1988) mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini pebelajar diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda. Implementasi teori Piaget oleh Karplus dikembangkan menjadi fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep . Unsur-unsur teori belajar Piaget (asimilasi, akomodasi, dan organisasi) mempunyai korespondensi dengan fase-fase dalam LC (Abraham et al, 1986). Hubungan tersebut disajikan seperi Gambar 1 (Marek dan Cavallo dalam Dasna, 2005).
Laerning Cycle Phases Mental Functio.

K. Pengembangan Media dalam Pembelajaran Sains

Upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran perlu terus dilakukan. Bamyak muatan pesan yang perlu dilaksanakan dari rambu-rambu kurikulum pendidikan nasioanal, antara lain :

1. Mengkondisikan perserta didik untuk menemukan kembali rumus, konsep atau prinsip dalam pembelajaran sains. Melalui bimbingan guru agar peserta didik terbiasa melakukan penelitian dan menemukan sesuatu.

2. Sekolah dapat menggunakan teknologi seperti komputer, media pembelajaran untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran.

Bahwa pada dasarnya anak belajar melalui yang konkrit, untuk memahami konsep abstrak anak memerlukan benda-benda konkrit ( riil ) sebagai perantara atau visualisasinya. Konsep abstrak tersebut dapat dicapai melalui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda. Bahkan orang dewasapun yang paa umumnya sudah dapat memahami konsep abstrak, pada keadaan tertentu sering memerluakan media visualisasi.

Belajar anak akan meningkat bila ada motivasi, karena itu dalam pengajaran diperlukan faktor-faktor yang dapat memotivasi anak belajar, bahkan pengajar. Misalnya, pengajaran supaya bernilai dan menarik, dapat menimbulkan minat, dan sikap guru dan penilaiannya yang baik. Suasana sekolah bagi guru menyenamngkan , ada imbalan bagi guru yang baik, dan lain-lain. Selanjutnya konsep abstrak yang baru dipahami itu akan mengndap, melekat dan tahan lama bila ia belajar melalui berbuat dan pengertian, bukan hanya mengingat-ingat fakta. Karena itulah dalam pembelajaran matematika sering kali kita gunakan media pembelajaran. Dengan menggunakan media pembelajaran maka :

1. Proses belajar mengajar termotivasi, ia akan senang, baik siswa maupun guru, dan terutama siswa minatnya akan timbul. Ia akan senang , terangsang, tertarik, dan karena itu akan bersikap positif terhadap pengajaran matematika.

2. Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkret dan oleh sebab itu lebih dapat dipahami dan dimengerti, dan dapat ditanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.

3. Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dopahami.

4. Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkret yaitu dalam bentuk model matematika yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.

Selain dari itu fungsi dan manfaat diatas, penggunaan media pembelajaran ( alat peraga) dalam matematika dapat dikaitkan dan dihubungkan dengan salah satu atau beberapa dari : (1) Pembentukan konsep, (2) Pemahaman konsep, (3) Latihan dan penguatan, (4) Pelayanan terhadap perbedaan individu (5) Pengukuran, alat peraga dapat dipakai sebagai alat ukur, (6) Pengamatan dan penemuan sendiri ide-ide dan relasi baru serta menyimpulkan secara umum, (7) Pemecahan masalah, (8) Pengundangan untuk berpikir, (9) Pengundangan untuk berdiskusi (10) Pengundangan partisipasi aktif.

Media pembelajaran dapat berupa benda riil, gambarnya atau diagramnya. Kelebihan media pembelajaran riil adalah benda-benda itu dapat dipindahkan ( dimanipulasi ), sedangan kelemahannya tidak dapat disajikan dalam bentuk tulisan. Media pembelajaran yang baik haruslah memperhatikan hal-hal berikut :

1. Tahan lama ( dibut dari bahan-bahan yang kuat )

2. Bentuk dan warnanya menarik

3. Sederhana dan dapat dilola ( tidak rumit )

4. Ukuranganya sesuai dengan ukuran fisik anak

5. Sesuai dengan konsep

6. dapat menunjukkan konsep matematika dengan jelas

7. Peragaan merupakan dasar bagi tumbuhnya konsep abstrak

8. Dapat dimanipulasi dan dapat menyajikan

9. Bila mungkin dapat bermanfaat banyak.


2. Bagaimana profil guru matematika seharusnya sehingga mampu mengantisipasi tantangan global pendidikan matematika hari ini dan kedepan.

Profil guru, khususnya guru matematika dalam mengatisipasi tatantangan global pendidikan matematika sekarang dan mendatang adalah sebagai berikut :

1. Guru harus mau berubah untuk mengadakan pembaruan dalam pelaksanan kegiatan belajar mengajar agar dapat memenuhi tuntutan kurikulum seperti yang telah diuraikan di atas. Guru harus dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan khususnya dalam inovasi pembelajaran di sekolah. Pengembangan inovasi pembelajaran sangat menuntut kreativitas guru. Kegiatan pengembangan inovasi pembelajaran hendaknya melibatkan organisasi profesi guru seperti MGMP dan institusi kependidikan seperti LPTK agar hasilnya sesuai dengan misi pendidikan. Bentuk inovasi pembelajaran yang telah dikembangkan guru, selanjutnya disosialisasikan kepada guru-guru lain agar mereka dapat menirunya dan sekaligus dapat menilai efektivitasnya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Pelaksanaan sosialisasi yang sekaligus dapat menilai efektivitas tersebut dapat dilakukan melalui lesson study. Lesson study merupakan kegiatan peningkatan kualitas pembelajaran dalam suasana kesejawatan (kolegalitas). Dalam lesson study, (planning), pelaksanaan (do/action) dan evaluasi (see/reflection). sejumlah guru bidang studi dan pakar pendidikan bersama-sama me­neliti aktivitas pembelajaran yang sedang berlangsung di suatu kelas. Kegiatan ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu perencanaan

2. Guru yang profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut untuk mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebab kegagalan dan mencari jalan keluar bersama dengan peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya. Proses mendampingi peserta didik adalah proses belajar. Karena sekolah merupakan medan belajar, baik guru maupun peserta didik terpanggil untuk belajar. Guru terpanggil untuk bersedia belajar bagaimana mendampingi atau mengajar dengan baik dan menyenangkan; peserta didik terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat. Medan belajar adalah medan yang menyenangkan, bukan menyiksa apalagi mengancam. Oleh karena itu, yang harus terlibat dalam medan belajar adalah hati atau lebih daripada budi. Jadi perkara belajar adalah perkara hati dan budi; memberikan penekanan pada peran budi semata- mata seperti yang lazim terjadi pada saat ini akan merintangi kemajuan pendidikan. Menjadi guru bukan sebuah proses yang yang hanya dapat dilalui, diselesaikan, dan ditentukan melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati, mengajar adalah profesi hati. Hati harus banyak berperan atau lebih daripada budi. Oleh karena itu, pengolahan hati harus mendapatkan perhatian yang cukup, yaitu pemurnian hati atau motivasi untuk menjadi guru. Memang harus disadari bahwa kondisi guru seperti yang tercermin pada temuan di atas harus menjadi keprihatinan bersama. Kondisi itulah yang harus dihadapi, bukan menjadi ajang untuk menyangkal atau malahan untuk menyalahkan pihak-pihak tertentu (yang tidak ada manfaatnya sama sekali). Dari itu semua yang paling berkepentingan adalah pribadi guru sendiri. Namun, itu sekaligus pula jangan sampai untuk mematahkan semangat rekan guru yang masih ingin menghidupi keguruannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar tak mungkin kerasan dan bangga jadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang profesional.

1 komentar:

  1. Bagus menambah wawasan bagi saya, salam kenal, TQ

    BalasHapus